Tuesday, March 31, 2009

Kristen Kultural

Kristen Kultural
Oleh Darmanto Jatman

elum pernah catatan saya penuh kata-kata mutiara seperti waktu mengikuti
lokakarya Kelompok Kerja Gereja dan Masyarakat (KKGM) yang diselenggarakan
di Kaliurang, Yogyakarta, peralihan bulan Januari-Februari 2003 ini. Di
seling Hari Raya Imlek, intelektual gereja dari Sumatera Utara, Kalimantan,
Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Papua dan tentu saja Jawa, bekerja bersama
untuk menyusun peta dan agenda masalah-masalah yang perlu diselesaikan
terutama yang kait-mengait dengan agama. Kali itu gagasan Th Sumartana
tentang "Protestantisme di simpang jalan" yang dilokakaryakan. Sayang Th
Sumartana, sang penggagas dialog antar-iman itu sendiri baru saja tiada;
karenanya seluruh lokakarya didedikasikan untuk menghormati almarhum.

Saya kutipkan beberapa kata-kata mutiara yang saya catat, antara lain:
"Banyak kader tapi tidak ada kepemimpinan"; "Saya datang karena topiknya
"Protestantisme di simpang jalan, padahal ia di pinggir jalan!"; "Gerejanya
lokal, teologinya universal"; "Tuhan dimuliakan atau tidak dimuliakan sudah
mulia!"; "What makes difference is action"; "Maka lengkaplah alasan saya
untuk frustrasi mendengar peran gereja dalam konflik di Sampit, Poso, Ambon
..."; "The problem is in Jakarta, the solution is in daerah!"; "Kekuasaan
Tuhan Barat membantai tuhan-tuhan suku"; "Kita butuh kerja bareng bukan
dialog!"; "Persatuan dirayakan, kesatuan dihujat!"; "Gereja menghegemoni
budaya lokal"; "Dalam konflik etnik di Kalimantan, Kaharingan, mempersatukan
Dayak"; Biarlah gereja menjadi gereja"; "Kita butuh teologi yang lebih bisa
dirasakan!"; "Gereja telah terkooptasi oleh negara"; "Tidak ada orang
beragama yang tidak berkebudayaan"; "Agama jangan surut jadi ideologi";
"Spiritualitas telah diklaim oleh agama"; "Kenapa kita menolak sinkretisme
wong semua orang sinkretis!". Masih banyak lagi, karena kata-kata mutiara
ini baru saya catat selama satu setengah hari, padahal lokakarya berjalan
tiga hari penuh!


Agama dan Kebudayaan

Sekalipun agama datang belakangan di berbagai suku di Indonesia (maksudnya
tentu agama besar, khususnya Kristen Protestan - Dmt); tetapi posisi agama
di atas kebudayaan lokal. Dr Judo Poerwowidagdo sampai jenuh membicarakan
soal hubungan agama dengan kebudayaan ini; justru karena Protestantisme
Kalvinis menempatkan kebudayaan di bawah agama - posisinya tidak setara. Di
Gereja Kristen Jawa (GKJ) pernah ada masa di mana kesenian ditabukan,
"Sekarang sudah maju. Gamelan sudah bisa masuk gereja".

Itu memang simbol bahwa kebudayaan sudah diperkenan oleh gereja untuk ambil
peranan. Alangkah mulianya gereja! Namun bukankah seluruh ekspresi
keberagamaan itu kebudayaan? Jadi kenapa lembaga agama mengklaim sebagai
"penguasa" kebudayaan yang boleh menentukan baik-buruknya karya-karya
manusia. Sekalipun sekularisasinya sudah berjalan ratusan tahun tokh
otoritas agama ini nyata dalam berbagai karya seni dan sastra. Misalnya
ketika seorang kritikus berkata: "Karya-karya Danarto religius" - maka tanpa
perlu bertanya, orang sudah tahu bahwa karya Danarto itu dalam dan bermutu
tinggi.

Sudah lama Romo Mangunwijaya mengingatkan bahwa religiusitas itu lebih
"lebar luas" ketimbang agama; tokh agama yang memiliki institusi kekuasaan
itu bisa mengklaim sebagai penentu religiusitas manusia. Di sinilah renesans
diperlukan - ketika agama baru memperoleh kuasanya melalui kebudayaan; yakni
ketika manusia mandiri dalam relasinya dengan Tuhan. Ketika mereka bisa
berdialog dengan Tuhan - seperti Martin Buber dalam "tradisi" mistik
hasidisme menulis buku I & Thou itu. Inilah proses sekularisasi yang
terkenal itu yang di Indonesia diperkenalkan oleh Dr Nurcholish Madjid
khususnya untuk kaum Muslimin. Di berbagai tempat, dengan memanfaatkan
agama, kaum agamawan menguasai awam, bahkan menguasai sebagian besar
sumber-sumber ekonomi mereka seperti dalam sistem kasta di India pada masa
Ramayana dan Mahabharata diriwayatkan.

Bahkan dalam kegiatan mental tinggi (baca: spiritual) teologi ditempatkan di
atas filsafat, dan jauh di atas kesenian maupun ilmu pengetahuan. Gereja
tentu memegang peranan penting dalam menetapkan hirarki ini - justru karena
pada masa itu filsafat dianggap menyaingi ajaran gereja. Demikianlah
protestantisme "mengubur" kebudayaan lokal (baca: tradisi) sebagai
kebudayaan kafir. Di Kalimantan, misalnya, Kaharingan dipinggirkan namun
justru karena itu - tutur Darius Dubut - pada masa terjadi konflik
antar-suku (baca: Dayak dan Madura), gereja tidak melakukan apa-apa sehingga
orang-orang Dayak berpaling ke agama asli mereka Kaharingan. Ternyata ini
juga terjadi di Ambon seperti tutur Jacky Manuputty. Gereja tidak jelas
sikapnya terutama dalam relasinya dengan negara yang memang selama Orde Baru
amat dominan. Demikianlah kebudayaan menjadi ajang solidaritas di antara
orang-orang Maluku yang terpecah dalam dua kelompok berdasar agama.

Perlu apresiasi gereja terhadap kebudayaan lokal secara lebih pantas,
termasuk berbagai kreativitas masyarakat indigenous seperti kesenian,
kesusastraan, bahkan apa yang selama ini diberi label ngelmu. Memang sih ada
ketakutan akan terjadinya sinkretisme yang ditolak oleh misi dan zending
Belanda tempo dulu, tetapi bukankah akulturasi-inkulturasi adalah proses
kebudayaan yang nyata? Dr Th Sumartana bahkan bersedia mengambil risiko
sinkretisme ini bila diperlukan sebagai akibat pluralisme yang ia
perjuangkan agar antara umat Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Tri Darma bisa
saling menghargai, hidup berdampingan secara damai, bahkan bekerja sama.

Saya jadi ingat tahun 1964, nun di masa silam, ketika Manifes Kebudayaan
dicetuskan dengan pernyataan agar sektor kebudayaan yang satu tidak
mendominasi sektor kebudayaan lainnya. Maksud jelasnya, janganlah politik
menindas sektor kebudayaan lain. Agama - sekalipun diakui secara universal
banyak unsur-unsurnya yang bersifat adibudaya - diharapkan tidak mendominasi
sektor kebudayaan yang lain yang kurang sakral, bahkan amat wadag seperti
ekonomi atau politik. Hanya sayang, pada masa sekarang ini justru agama yang
dimanfaatkan orang untuk berbagai tujuan politik dan ekonomi.


Kristen Abangan

Ketika saya menyatakan diri sudah jadi "Kristen Jawa" sejak bayi, seseorang
bertanya "Apakah kristen Jawa itu sebuah denominasi?!". Imajinasi saya -
jadi penghayatan saya - menolak. Rasanya, saya Kristen sekaligus saya Jawa,
seperti iklan televisi, sabun sekaligus lotion sekaligus rempah untuk spa;
namun ditawarkan sebagai sabun. Posmo banget: Demikianlah saya menyatakan
diri sebagai "Kristen kultural" sekaligus "Jawa spiritual." Kristen kultural
ini mungkin lebih gampang dipahami bila kita bedakan dengan Kristen formal
atau struktural yang menjadi anggota jemaat, atau bahkan pendeta dan
melaksanakan syariat Kristen dengan sepatuh-patuhnya.


Mungkin kita juga akan lebih mudah memahaminya bila kita rujuk tiga
penggolongan kaum seperti yang diajukan oleh Clifford Geertz: priyayi,
santri, dan abangan. Memang sih, kategorisasi yang diajukan Geertz banyak
mendapat kritik dari para pemerhati Jawa, akan tetapi pengaruh Geertz
agaknya sudah terlanjur mengakar dalam-dalam. Kalau benar kata 'abangan'
berasal dari abaan (jadi bukan "abang" = merah), maka ia berarti
"pemberontak". Tidak mematuhi syariat sepenuhnya. Ada- kah para pemeluk
kebatin- an, penghayat kepercaya- an, masuk dalam kategori ini?!

Dulu memang ada semacam gerakan yang ingin meniadakan kaum abangan ini
(baca: kebatinan Jawa); namun agaknya sikap ini mulai berubah. Dr Abdul
Munir Mulkan bahkan dalam Muktamar Muhammadiyah di Bali menyatakan perlunya
Muhammadiyah memberi rumah bagi kaum abangan ini. Bukan rumah benaran:
"rumah", ruang. Sementara Dr AS Hikam bahkan menduga perlunya kaum abangan
ini sebagai "bumper", penengah, bila terjadi konflik antar-agama. Peniadaan
kaum abangan adalah bagian dari penyebab terjadinya konflik antar-agama.
Orang- orang abangan ini tetap Jawa secara kultural, bahkan secara spiritual
(!). Dalam bangkit maraknya Islam seperti sekarang ini - yang juga amat
berpengaruh dalam bahasa maupun tatakrama - mereka juga memberi salam
"Assalamualaikum" dengan taksimnya. Mereka juga menggunakan idiom-idiom
islami seperti rahmatan lil alamin, amar ma'ruf nahi munkar, dan lain-lain.

Apakah dengan demikian Kristen kultural ini Kristen abangan? Jawabnya bisa
ya bisa tidak. Bila ia mencantumkan agamanya Kristen dalam KTP, ia Kristen
KTP dan kemudian dimasukkan dalam golongan "abangan" juga. Tetapi bila ia
tidak menghayati nilai-nilai yang diturunkan (!) dari agama Kristen
Protestan, maka ia bukan seorang Kristen kultural. Mungkin Johnny Blater
yang menyebut dirinya beragama Humanis, tumbuh kembang di Australia adalah
seorang Kristen kultural; bahkan Paul Tillich yang mengemukakan gagasan
tentang religion without god adalah seorang Kristen kultural. Lewat puisi
Sitor Situmorang "universal" namun lewat kebatakannya ia Kristen kultural;
demikianlah ia mengungkapkan diri secara lokal, nasional, universal namun di
atas itu ia unik!

Dalam Lokakarya KKGM itu memang muncul kritik pedas terhadap gereja suku
atau gereja lokal, juga terhadap PGI; bahkan beberapa orang mengingatkan
bahwa Indonesia ini bukan NKRI (Negara Kesatuan RI). Tapi NPRI (Negara
Persatuan RI) untuk mengingatkan bahwa Indonesia ini bermacam ragam, plural.
Karenanya tidaklah sepatutnya memperlakukan Papua, Minahasa, Ambon, Dayak
sama dengan Jawa! Pernyataan yang menyiratkan kekhasan daerah juga dari
sudut agama yang berbeda dengan mayoritas bangsa Indonesia.

Spiritualistas Baru

Di Amerika Serikat memang ada tanda-tanda munculnya kehausan akan
spiritualitas baru ini, terutama sesudah Perang Vietnam. Anak-anak muda
mengembara ke Tibet, Tiongkok, India untuk belajar Tai Chi, Yoga. Mereka
merasakan akan adanya kekosongan spiritualitas ini - namun bukan
spiritualitas yang dikuasai oleh gereja atau salah satu agama. Spiritualitas
yang sekalipun religius tidak terkotakkan dalam salah satu agama. Johnny
Blater menyatakannya sebagai "agama kemanusiaan". Agama yang tidak "pihak
memihak" pada kepentingan kekuasaan tertentu.

Bila dulu ada gerakan yang disebut new morality dan kena bias "seks bebas",
agaknya spiritualitas ini bukannya tidak mungkin terbiaskan oleh "anarki ala
posmo", pluralisme yang tak kenal batas.

Sekalipun demikian saya menyebut diri "Jawa spiritual" karena pada dimensi
spiritual inilah "kekristenan Jawa" atau "kejawaan Kristen" itu
dimungkinkan; yakni ketika kita bisa mengakui bahwa tubuhpun punya
spiritualitasnya sendiri, rohnya sendiri, seperti juga gereja, bahkan juga
penjara dan dunia ini. Artinya, kita bakal sampai ke sana ketika kita yakin
bila roh itu mem- bebaskan kita dari keterbelengguan kepentingan kekuasaan.

Masalahnya tentu, bagaimana kritik terhadap protestantisme itu bisa
menyadarkan dan memberdayakan gereja?!

Penulis adalah budayawan.

Last modified: 13/2/2003

No comments: