Tuesday, March 31, 2009

Indonesia Perlu Revolusi Pemikiran

Indonesia Perlu Revolusi Pemikiran

Dua pekan terakhir ini, kalangan pengkaji pemikiran Islam di Indonesia kedatangan tamu penting: Prof. Dr. Hassan Hanafi, 66 tahun. Guru besar filsafat Universitas Kairo, Mesir, itu sejak awal 1980-an dikenal dengan label ''kiri Islam'' (al-Yasar al-Islami, Islamic Left) berkat jurnal yang diterbitkannya, al-Yasar al-Islami.

Hassan Hanafi adalah pemikir yang produktif. Ia telah menerbitkan 18 judul buku berbahasa Arab, dua judul berbahasa Inggris, dan tiga judul dalam bahasa Prancis. Bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia juga banyak menghiasi toko buku.

Sabtu dua pekan lalu, Hassan Hanafi menemui teman lamanya, Presiden Abdurrahman Wahid. Ia juga berceramah di beberapa kampus dan lembaga kajian di Jakarta, Yogyakarta, Medan, Palembang, dan Makassar. Ini kunjungan ketiganya ke Indonesia, dan paling lama, sejak 18 Mei sampai 5 Juni 2001. Wartawan Gatra, Asrori S. Karni mewawancarainya di lobi Hotel Sofyan, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu malam pekan lalu. Wawancara dilakukan dalam bahasa Arab. Petikannya:

Di Indonesia belakangan bermunculan aksi massa "revolusioner" yang bergerak atas nama pemahaman agama. Bagaimana Anda menerjemahkan konsep revolusi dari buku Anda Min al-Aqidah ila al-Tsaurah (Dari Aqidah Menuju Revolusi), dalam konteks negeri seperti Indonesia ini?

Revolusi yang saya maksud tidak terkait dengan gerakan massa, gerakan mahasiswa, kudeta, atau serangan bersenjata. Tidak. Revolusi ini adalah revolusi kebudayaan, revolusi pemikiran, dan revolusi ideologi. Bagaimana mengubah tauhid, dari aqidah yang pasif, yang tak punya pengaruh pada kehidupan individu, pada kehidupan masyarakat, dan pada sejarah, menuju tradisi progresif.

Seperti kata Muhammad Iqbal, "Tauhid adalah kekuatan dinamis di muka bumi untuk melakukan revolusi." Tauhid merupakan sumber revolusi kehidupan. Tapi yang terjadi, dalam ilmu kalam klasik, tauhid hanya sekadar teori tentang dzat, sifat, dan perbuatan Tuhan. Tauhid itu seperti pedang. Tatkala dikeluarkan dari sarungnya, terlihat mengkilat dan bersinar. Tapi sekarang, tauhid telah memicu polemik di kalangan umat.

Maka yang saya maksud dengan Min al-'Aqidah ila al-Tsaurah adalah bagaimana iman saya pada Allah, pada penciptaan alam, pada penciptaan manusia, pada kenabian, dan pada alam akhirat, mampu berubah menjadi kekuatan revolusi. Lebih dari sekadar sikap nrimo, patuh pada penguasa despotik, dan oportunis pada pemimpin dzalim. Seperti Bilal, tukang adzan Rasululllah, setelah bersaksi La Ilaha illa Allah kemudian melawan kezaliman. Atau Umar bin Khattab, setelah bersaksi La Ilaha illallah lalu berkata di hadapan umum, "Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari Umar atau Hamzah."

Jadi, Min al-'Aqidah ila al-Tsaurah maksudnya adalah bagaimana tauhid berubah menjadi revolusi pemikiran dan keyakinan, sehingga menjadi spirit, semangat, dan kekuatan. Itulah yang menjadikan ulama berijtihad dengan semangat La Ilaha Illallah. La Ilaha artinya negasi terhadap tuhan-tuhan palsu. Seperti harta, kekayaan, jabatan, dan penguasa. Illallah artinya hanya Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Penyatu. Tiada Tuhan selain Allah.

Yang ingin saya lakukan adalah bagaimana iman, amal, imamah, dan bai'at menjadi revolusi pemikiran, sehingga kemudian menjadi inspirasi revolusi aksi. Saya bukanlah generasi yang menginginkan revolusi jalanan. Saya mendahulukan revolusi pemikiran. Sampai suatu saat muncul revolusi aksi.

Sebagian artikel Anda menyebut beberapa contoh revolusi dalam sejarah Islam. Seperti Revolusi Qaramithah di Baghdad, Sanusiyah di Libya, atau Mahdi di Sudan. Penyebutan itu apakah bermakna bahwa revolusi jenis itu juga anda maksud dalam gagasan Anda?

Tidak. Revolusi di Iran, di Indonesia, dan sebagainya, ini semua realisasi praktis dari revolusi pemikiran. Imam Khomeini mengambil tauhid dan menjadikannya spirit revolusi. Revolusi saya adalah revolusi pemikiran. Ketika ada waktu, bisa berubah menjadi revolusi aksi. Tapi bukan saya yang merealisasikan pada revolusi aksi.

Saya seorang pemikir. Saya hanya menulis teori revolusi. Saya seperti Karl Marx yang menulis Das Kapital. Saya ingin menulis Das Kapital versi Islam. Kemudian datang orang seperti Lenin, Stalin, dan Mao Zedong yang mewujudkan revolusi. Lihatlah Revolusi Prancis. Saya seperti Voltaire, Rousseau, dan Montesquieu. Mereka semula berbicara tentang revolusi, kemudian terjadilah Revolusi Prancis.

Tapi, revolusi aksi bukan hal yang terlarang dalam pemikiran Anda?

Tidak dilarang. Cuma, saya tak punya waktu untuk melakukan revolusi aksi. Saya guru besar perguruan tinggi. Saya lebih concern pada jalur pemikiran dan ideologi. Saya tidak bisa membuat teori revolusi sekaligus merealisasikannya. Ini perlu umur tambahan.

Saya baca, Anda juga terinspirasi oleh Ali Syari'ati.

Tidak terinspirasi. Tapi saya hidup satu masa dengan dia di Paris. Dia menghidupkan revolusi di Iran, sebagaimana saya menghidupkan revolusi di dunia Sunni.

Apakah Anda juga berobsesi seperti Ali Syari'ati. Seorang pemikir sekaligus penggerak revolusi aksi?

Tidak. Tak seorang pun ingin menjadi seperti orang lain. Saya bukan tipe tukang taqlid (meniru buta). Saya bukan Karl Marx. Saya bukan Ali Syari'ati. Saya Hassan Hanafi. Seorang pemikir tidak taqlid pada orang lain. Tapi saya dan Ali Syari'ati berjalan pada jalur yang sama dalam mendorong revolusi Islam, revolusi kebudayaan, dan revolusi realitas sosial.

Anda punya perhatian khusus pada Indonesia? Revolusi jenis apa yang relevan untuk Indonesia?

Ya, revolusi pemikiran. Di Indonesia masih ada pemikiran taqlid-konservatif yang dipelajari para mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Azhar Mesir. Mereka lebih dominan memakai metode naql (normatif) dan metode hafalan. Tapi ada minat pada sebagian mahasiswa Indonesia untuk berkenalan dengan pemikiran di luar Al-Azhar. Seperti pemikiran saya, Arkoun, Ali Syari'ati, Abed Al-Jabiri, atau Husain Marwah. Mereka mengambil dari dunia Arab wacana revolusi dan Post-Fundamentalisme.

Cuma, tantangannya bukanlah bagaimana mengambil dari dunia Arab atau dunia lain, tapi bagaimana memikirkan dan mengidentifikasi problematika di Indonesia. Seperti soal integrasi nasional, soal dialog antara Islam dan Budha, Konfusianisme, Nasrani, dan kepercayaan-kepercayaan lokal di Jawa atau Sumatera. Ini tema-tema pemikirannya. Tauhid berasal dari Kitab dan Sunnah. Tetapi mereka harus memahaminya dengan konteks politik dan sosial-budaya Indonesia. Bukan dengan menukil pemikiran Kiri Islam. Mungkin saja di Indonesia bisa muncul pemikiran yang lebih baik dari Kiri Islam.

Ya, penukilan itu barang kali untuk permulaan

Mungkin permulaan, tapi kalian misalnya bilang tentang pengaruh Muhammad Abduh, Afghani, Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna, atau Sayyid Qutub, tetapi mana pemikir Indonesia? Seperti yang terjadi di Turki, mereka hanya menyebutkan pengaruh dari Abduh, Afghani dan lain-lain. Lalu di mana pemikir Indonesia? Mana pemikir Turki? Yang mengkritisi Musthafa Kamal Attaturk dan mengkritisi konservatisme sembari mencari jalan ketiga. Seorang pemikir harus menjadi pemikir nasionalis. Memikirkan bangsanya. Karena itulah saya beri nama buku saya terakhir, Humum al-Fikri wa al-Wathan (Kegelisahan Pemikiran dan Kebangsaan).

Saya baca dalam proyek pemikiran Anda bahwa Anda menolak tasawuf, karena tasawuf menyebabkan apatisme. Tapi faktanya, banyak revolusi justru lahir dari tarekat sufi. Bagaimana ini?

Pada sebagian negara, seperti Maroko, Tunisia, kasus Mahdi di Sudan, Rifa'iyah, Syadziliyah, dan Naqshabandiyah di Usbek, tarekat-tarekat itu mempunyai pengikut besar. Mahdiyah di Sudan punya pengikut. Sanusiyah di Libya punya pegikut. Naqshabandiyah di Asia Tengah juga punya pengikut. Banyak orang suka jalan sufi, demikian juga di Maroko. Seperti Thaha Abdurrahman, pemikir rasional asal Maroko, yang berusaha seperti Abed al-Jabiry, tapi tidak berhasil. Lantas apa yang ia lakukan? Kemudian dia mendirikan tarekat Rahmaniyah yang diikuti banyak orang. Kalau saya ingin, saya akan mendirikan tarekat Hanafiah. Tapi saya tidak mau tarekat.

Tarekat adalah media mewujudkan kepuasan batin manusia dalam kerinduan yang bersifat taqlid melalui seorang syaikh tarekat yang punya kharisma dan mempunyai mu'jizat. Agama bersifat komunal. Bagaimana Islam masuk ke Afrika? Ya, lewat jalur tasawuf. Jadi revolusi yang berlangsung dari tarekat semacam ini, adalah revolusi melalui magisme dan pengorbanan jiwa (al-Fida'). Tapi yang saya inginkan revolusi kesadaran, revolusi pemikiran, revolusi analisa sosial, revolusi penakwilan nash. Ini semua tidak bertumpa pada magisme, mu'jizat dan pengorbanan jiwa.

Jadi, penolakan Anda hanya pada sebagian tasawuf?

Hanya sebagian. Ada juga tasawuf yang progresif, seperti Umar Mukhtar, Sanusiyah, dan Mahdiyah. Ada jenis tasawuf seperti Al-Hallaj, seorang sufi, tapi ikut dalam revolusi Qaramithah di Baghdah.

Hallaj termasuk Kiri Islam?

Ya, termasuk Kiri Islam. Karena dia bilang, "Siapa yang terlibat dalam revolusi Qaramithah, melawan kaum kaya Qaramithah, mereka adalah orang-orang mustad'afun." Namun masyarakat menghukumi Hallaj sebagai kafir sehingga ia disalib. Itu bukan karena sebab agama, tetapi karena politik. Tasawuf mungkin saja akan menjadi tasawuf progresif, tapi mungkin juga menjadi tasawuf pasif, tidak dinamis, dan terkait dengan tradisi taqlid.

Toh, realitas sekarang, sufisme menjadi trend minat masyarakat kota. Bagaimana rekonstruksi Anda tentang tasawuf?

Saya menulis buku tentang tasawuf berjudul Min al-Fana Ila al-Baqa' (Dari Fana menuju Baqa'). Puncak tujuan kaum sufi adalah fana. Fana pada Allah. Artinya, meleburkan diri pada Allah, menyatu dengan Allah, seperti konsep Nirwana dalam Hindu. Saya tidak demikian.

Saya menginginkan baqa' di bumi. Beramal di bumi. Saya pernah ke Borobudur. Di sana ada tempat ibadah besar bagi orang Budha. Saya mendaki ke puncak tempat itu, kemudian seorang guide tanya pada saya, "Apa yang Anda rasakan ya Ustadz? Apakah Anda merasa bersama Allah? Menyatu dengan Allah? Fana dalam Allah?"

Saya katakan, "Tidak. Saya ingin kembali ke bumi. Kekal bersama kaum fakir, miskin, dan kalangan pengangguran." Bagi saya, dalam tasawuf, saya tidak mementingkan fana, tapi baqa. Bukan sabar, tawakal, wara' (rendah hati), ridha, khauf (takut), dan khashyah (khawatir). Tidak. Ini semua sikap-sikap pasif-negatif. Saya menginginkan tasawuf yang berarti mu'aradhah (oposisi), rafdh (penolakan), kemajuan, dan revolusi. Saya menginginkan tasawuf jihadi (progresif), dan bukan tasawuf istislami (pasif).

Anda mengajarkan tasawuf jenis ini pada komunitas tertentu?

Tidak. Saya hanya mengajar di Universitas. Saya hanya membimbing pada jalur pengembangan ilmu. Namun mungkin ada lain yang mampu mengembangkan tasawuf ini pada komunitas khusus, seperti kaum tani dan buruh. Saya hanya menulis teori revolusi. Tapi mungkin saya tidak menyelenggarakan revolusi. Saya seperti Karl Marx yang menulis Das Kapital. Saya ingin menulis Das Kapital versi Islam. Kemudian datang orang seperti Lenin, Stalin, dan Mao Zedong yang mewujudkan revolusi.

Berarti, kritikan Issa J. Boulata bahwa tulisan-tulisan Anda terlalu teoritik, tidak salah?

Mungkin. Tapi saya punya banyak pengikut di Indonesia, Maroko, Al-Jazair, Sudan, Lebanon, Yordania, Tunis, Iran, dan Malaysia.

Ngomong-ngomong, waktu bertemu Presiden Sabtu (26/5) lalu, apa yang Anda perbincangkan?

Kami bicara tentang Indonesia. Tentang pemikiran keislaman kebangsaan Indonesia. Tentang upaya mendesak mempertahankan integrasi nasional. Tentang pembentukan Pusat Pemikiran Baru Islam --seperti IIT (International Islamic Thought) di Kualalumpur-- untuk pemikiran masa depan Indonesia. Kami juga bicara tentang Prisma. Ini Jurnal Kiri Islam ala Indonesia sebelum Hassan Hanafi bikin jurnal Kiri Islam.

Siapa yang kasih tahu Anda tentang Prisma?

Ya, Abdurrahman Wahid. Dia terjemahkan sebagaian makalah saya di Prisma. Dan dia memberikan penghargaan pada saya tahun 1985. Saya kenal Prisma dari kiriman via pos. Sebagaimana saya tahu jurnalnya Chandra Mudhaffar dan Qasim Ahmad di Malaysia. Itu Kiri Islam ala Malaysia. Kiri Islam ada di setiap negara. Tapi dengan nama yang berbeda-beda.

Bisakah Abdurrahman Wahid disebut sebagai pengikut Kiri Islam?

Dia sebagai tokoh NU berada pada posisi tengah. Antara kiri dan kanan. Dia pernah mengadukan keinginannya untuk menghidupkan wacana kiri di NU, tapi kemudian yang demikian dianggap nakal dan membangkang.

Ada tujuan khusus menemui Gus Dur?

Tidak. Dia teman saya. Setiap kali saya ke Indonesia, saya menemuinya. Setiap dia ke Kairo, dia menemui saya. Sama. Baik sebelum menjadi Presiden maupun sesudahnya. Saya menghormatinya sebagai pemikir dan pemimpin organisasi keagamaan berpengaruh. Hubungan saya dengan Abdurrahman Wahid seperti hubungan saya dengan Arkoun, Nashr Hamid Abu Zayd, Abed al-Jabiry, dan Tayeb Tazini. Abdurrahman Wahid, seperti Nurcholish Madjid, merupakan pemikir terkemuka di Indonesia, terlepas dari jabatan politiknya.

Kabarnya, kunjungan Anda kali ini karena ada rencana membuat tulisan khusus tentang Indonesia?

Benar. Saya mau menulis tentang Islam dan masa depan Indonesia. Tapi, sebelumnya saya ingin membaca aliran pemikiran di Indonesia dan buku-buku kemasyarakatan dan ekonomi tentang Indonesia. Saya juga mengamati Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Indonesia. Akhirnya, saya akan menyusun dari semua itu untuk menemukan apa yang saya sebut sebagai Kiri Islam Indonesia.


Wawancara ini diambil dari Gatra.com, Jakarta, Selasa, 05-06-2001 19:01:32

No comments: