Tuesday, March 31, 2009

Islam Teks dan Realitas

Islam Teks dan Realitas
M Hasibullah Satrawi, Aktivis di Lembaga Penelitian NICoS di Kairo, Mesir

DENGAN judul di atas, penulis ingin menelusuri pandangan keagamaan lebih mendalam, melintasi dua kesimpulan yang dirangkum oleh Akh Muzakki dalam artikelnya berjudul ''Dua Model Tradisi Keagamaan'' di Media Indonesia, 31/10/2003 lalu. Dalam pandangan Akh Muzakki, tradisi keberagamaan umat (Islam) terbagi ke dalam dua bagian. Pertama, pandangan yang cenderung intelektualisme. Kedua, pandangan yang kecenderungannya lebih kuat pada komunalisme.

Satu hal sangat urgen untuk dicatat dari penalaran Akh Muzakki, yaitu ketika ia berkesimpulan bahwa pandangan keagamaan ala komunalisme lebih besar kemungkinannya untuk diterima masyarakat umum. Karena menurutnya, pandangan komunalisme ini menawarkan konsep keberagamaan yang jelas, atau 'siap saji' dalam bahasanya. Berbeda dengan pandangan keagamaan yang kecenderungannya intelektualisme. Pandangan ini selalu menawarkan konsep keagamaan mentah. Adalah logis apabila khalayak umum kurang responsif terhadap konsep yang mereka usung.

Dalam setiap kajian keagamaan umumnya dan Islam khususnya, ada dua hal yang perlu kita pahami. Keberadaan Islam sebagai ajaran agama Tuhan. Semua ajaran yang dianjurkan Islam bermuara dari teks ilahi yang kita kenal dengan kitab suci, baik Alquran maupun Hadis. Dalam poin ini, semua umat Islam dari dulu hingga sekarang berada dalam 'titik' mufakat. Hanya saja, terjadi perbedaan amat tajam dalam memosisikan teks suci di tengah arus perubahan kehidupan.

Sebagian berpendapat bahwa teks ilahi harus menaungi setiap tingkah laku umat Islam. Sebagian lain berpandangan bahwa harus ada pandangan rasional-realistis dalam menyikapi keberadaan teks suci tersebut. Namun demikian, semuanya sepakat akan adanya teks 'berpengaruh' dalam kehidupan umat beragama (Islam). Dengan kata lain, perbedaan yang ada dalam tubuh umat Islam berkaitan dengan teks suci hanyalah dalam sudut pandang, bukan dalam keberadaan teks itu sendiri. Realitas inilah yang penulis sebut dengan 'Islam Teks'.

Istilah 'Islam Teks' pada perkembangan berikutnya mengalami pelebaran artikulasi. Sebagaimana telah dipaparkan di atas, Islam Teks pertama kalinya muncul sebagai istilah yang mencerminkan adanya teks suci dalam kehidupan umat beragama. Namun, babak berikutnya menyaksikan terjadinya pelebaran artikulasi. Pelebaran tersebut mencakupi teks-teks nonsuci yang diproduksi oleh para tokoh Islam terdahulu. Dari sini, Islam Teks menjadi sebuah istilah yang mencerminkan penafsiran 'negatif' dari suatu kelompok terhadap suatu teks. Hingga akhirnya istilah konservatisme, fundamentalisme bahkan terorisme menjadi 'kartu pengenal' resmi kelompok ini.

Ketika Islam Teks mengalami perubahan, telah terjadi hal kedua yang perlu dipahami dalam kajian keagamaan; perubahan dari Islam Teks sebagaimana diinginkan agama Islam, menjadi Islam realitas atau historis. Islam realitas adalah perjalanan Islam sebagaimana terekam dalam sejarah. Islam realitas ini sangat berbeda dengan Islam Teks pengertian pertama. Islam realitas ini lahir akibat pelebaran artikulasi Islam Teks pengertian pertama ke pengertian kedua.

Inilah yang penulis maksud pada pendahuluan, bahwa telah terjadi perbedaan amat tajam dalam menyikapi keberadaan teks tersebut. Perbedaan itu, secara garis besar bisa kita bagi ke dalam dua bagian. Kelompok yang berpendapat bahwa setiap tingkah laku umat Islam harus bertolak dari teks suci dan 'yang disucikan'. Kondisi konteks pun kurang mereka perhatikan. Dalam pandangan kelompok ini, teks harus mengatur perjalanan konteks. Kini teks seakan terlepas dari segala kekurangannya. Ia mampu menembus batasan ruang dan masa.

***

Sampai di sini kita dihadapkan pada pertanyaan, yang jawabannya sangat menentukan arah pemikiran keagamaan seseorang sebagaimana diklasifikasikan oleh Akh Muzakki di atas (komunalisme dan intelektualisme); bagaimana dengan bahasa Tuhan yang berada dalam kitab-kitab suci? Seorang yang arah pemikiran keagamaannya tergolong kelompok pertama (komunalisme) akan mengatakan bahwa teks adalah segalanya dalam hidup. Hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang diyakini oleh seorang yang masuk dalam kategori kedua. Dalam pandangan kelompok ini, sebuah teks bukanlah segalanya. Teks tidak bisa lepas dari konteks. Karena sebuah teks lahir dari perjalanan konteks. Relasi antara keduanya saling melengkapi. Dengan begitu, sebuah teks tak lagi dipahami membatasi gerak-laju konteks, justrru sebaliknya, keberadaan teks untuk menyinari perjalanan konteks.

Teks, apa pun namanya dan sesuci apa pun tak dapat dipisahkan dari kekurangan. Karena teks ataupun bahasa adalah sebuah mediator yang bisa mengungkapkan, mempertemukan dan merealisasikan angan dan cita-cita manusia. Ketika manusia penuh dengan kekurangan, teks pun seperti itu. Dalam banyak kasus, teks tidak mampu membahasakan secara utuh terhadap realita yang ada. Hal ini bisa kita contohkan dengan realita yang biasa dialami oleh seorang tokoh sufi 'mumpuni'. Konon seorang sufi dalam salah satu pengalaman spiritualitasnya mencapai sebuah rasa yang tak mungkin dibahasakan. Apa yang ia rasakan, selamanya berdiam dalam angan.

Apa yang penulis ungkap berkaitan dengan kekurangan bahasa tak bermaksud mengurangi kesucian Tuhan. Hemat penulis, merupakan kekuasaan yang tak terhingga, ketika Tuhan menurunkan ajaran-ajaran mulia untuk umatnya dengan menggunakan bahasa yang penuh kekurangan yang sebenarnya tak mampu menampung ajaran tersebut. Hingga manusia yang penuh kekurangan ini bisa memahami apa yang diinginkan Tuhan.

Di akhir tulisan ini, penulis ingin mengulang kembali kesimpulan Akh Muzakki dalam bentuk pertanyaan, mengapa umat Islam lebih cenderung menerima suatu konsep yang 'siap saji'? Dalam sebuah artikel yang diturunkan harian bergengsi Arab, As-Sharq al Awsat, beberapa minggu lalu, Hashim Saleh, seorang kolumnis ternama Arab, mensinyalir bahwa semuanya berawal dari abad ke-11 M. Tepatnya ketika pemikir Islam populer dengan Hujjatul Islam (al Ghazali) mengharamkan karya-karya filsafat. Sejak itu umat Islam tak lagi terdidik untuk menjadi umat yang berusaha. Mereka lebih suka menerima 'sajian' para ulama. Otoritas agama pun tak lagi di tangan Tuhan, tetapi di tangan mereka. Mendidik masyarakat untuk menerima ajaran yang 'siap saji' bukanlah permasalahan, asalkan para penyajinya telah terdidik. Hingga ia bisa membedakan antara 'anggur' dan 'racun'. Karena ajaran yang diterima oleh mayoritas masyarakat bukanlah barometer totaliter sebuah ajaran ideal.**

No comments: