Tuesday, March 31, 2009

Dakwah-Dakwah yang Menyejukkan

Dakwah-Dakwah yang Menyejukkan
Toeti Adhitama; Ketua Dewan Redaksi Media Indonesia

SALAH satu peristiwa yang menyenangkan bagi masyarakat Islam Indonesia pada bulan Ramadan adalah mendengarkan dakwah atau ceramah agama. Maka biasanya tarawih-tarawih di tempat-tempat umum atau di rumah-rumah selalu menghadirkan pendakwah. Sukses tidaknya dakwah yang diberikan tergantung pada pengalaman, wawasan, kedalaman jiwa, maupun ajaran yang dimiliki pendakwah; selain, tentu, sikap dan perilaku atau pribadi pendakwah sendiri. Ada yang filosofis dan membuat yang hadir merenung lebih dalam tentang kehidupan dan hubungannya dengan Tuhan. Ada yang menyampaikan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan dengan penuh humor, yang membuat yang hadir tak henti-hentinya tertawa, menertawakan diri sendiri atau masyarakatnya. Sayangnya, ada juga pendakwah yang memanfaatkan kesempatan itu untuk mengeluarkan kejengkelan-kejengkelan tentang situasi yang ada dan menjurus pada unsur-unsur SARA yang memanas-manasi perasaan yang hadir. Kita patut bersyukur bahwa dakwah lewat media cetak atau eletronik umumnya menyejukkan. Memang seharusnya demikian. Masalah-masalah yang menyangkut moralitas individu, kelompok masyarakat, dan moralitas bangsa dipaparkan dengan sentuhan halus, berlandaskan ajaran-ajaran agama Islam. Tokoh-tokoh seperti Quraish Shihab, Nurcholish Madjid, dan Aa Gym dengan simpatik mengurai gagasan mereka dengan mengacu pada kitab suci Alquran, Hadis Nabi Muhammad saw, atau pengalaman-pengalaman para nabi lainnya. Mereka mengangkat cerita tentang pengalaman-pengalaman yang meningkatkan keluhuran Islam sebagai agama. Secara tidak langsung, pendakwah-pendakwah yang berpegang pada kesantunan dalam mengekspresikan ajaran-ajaran luhur Islam ibaratnya melakukan tugas public relations bagi Islam dan umatnya. Sebaliknya, yang menghamburkan kata-kata yang menyiratkan rasa dengki, iri, atau kebencian terhadap kelompok lain malahan merugikan semua pihak, baik yang menjadi subjek maupun yang menjadi objek.

Menyikapi rasa kebencian yang dipendam pendakwah, saya teringat pada nasib Socrates, filosof Yunani (469-399 SM) kelahiran Athena. Dialah yang menemukan landasan bagi falsafah etika didasarkan pada analisis karakter dan alasan mengapa orang melakukan sesuatu. Dia mencari apa yang baik dan apa yang buruk; dan tentang hak dan kewajiban manusia ditinjau dari segi moral. Sikapnya yang menentang tirani yang menguasai Athena setelah kalah perang, membuatnya diadili dan dijatuhi hukuman mati dengan meminum racun, sesuai hukum yang berlaku. Kesalahan yang dituduhkan, dia atheis dan menghasut orang-orang muda agar tidak percaya lagi pada dewa-dewa Yunani. Yang sebenarnya dia lakukan adalah mengkritik anggapan bahwa dewa-dewa Yunani akan hidup abadi. Sebaliknya, dia meyakini bahwa roh atau jiwalah yang akan abadi dan bahwa dia percaya akan adanya sesuatu yang mahabesar dan genius yang membimbingnya. Socrates dihukum mati karena meyakini asas ketuhanan yang kita yakini sekarang.

Kapasitas untuk menanggapi ajaran agama ada pada setiap orang walaupun kualitasnya berbeda dari satu individu ke individu lain. Lingkungan sosial dan bagaimana dia dibesarkan memang memengaruhi. Namun, perbedaan antarindividu yang menentukan. Ada yang mendapat pengalaman-pengalaman supernormal. Ada pemikir-pemikir yang introspektif. Ada yang tertarik pada agama hanya pada waktu-waktu tertentu, pada saat dia perlu atau karena mengikuti ritual sosial.

Studi tentang agama menunjukkan, sebenarnya agama lahir--atau diturunkan oleh Tuhan--karena manusia mencari apa nilai kehidupan, dan karena manusia percaya bahwa kehidupan terjadi bukan secara kebetulan dan tanpa arti. Dalam rangka mencari itu tumbuh keyakinan akan adanya kekuasaan universal yang lebih besar dari segala-galanya. Ada unsur intelektual dalam pencarian tentang tujuan hidup dan nilainya. Ada unsur emosional dalam ketergantungan manusia pada kekuasaan mahabesar yang menciptakan kehidupan ini. Sisi-sisi intelektual dan emosional agama memengaruhi sikap dan perilaku manusia. Agama selalu dikaitkan dengan moralitas, sekalipun sistem moral berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Apakah moralitas bisa eksis tanpa agama? Itu masih diperdebatkan. Yang jelas tidak ada agama yang tidak memberikan tuntunan moral. Selain itu, agama selalu memiliki sisi sosial. Aturan-aturan moral di sebagian masyarakat memiliki landasan agama yang kuat. Itu didukung oleh ajaran-ajaran yang tersurat dalam kitab suci dan oleh tindakan-tindakan para pemuka agama.

Maka rasanya janggal kalau ada pendakwah--yang notabene adalah pemuka agama--malahan menyebarkan rasa kebencian yang bersifat memecah belah. Tidak ada agama yang menuntun kita untuk melakukan itu. Islam jelas tidak. Maka dalam menikmati berkah Ramadan, masyarakat Islam patut waspada. Bukankah Ramadan dimaksudkan untuk memperkukuh iman dan memelihara kesabaran? Mengutip renungan Ramadan Nurcholish Madjid, ''... orang yang beriman harus mantap pada dirinya sendiri, harus memiliki percaya diri, dan harus memiliki sikap .... Orang-orang yang imannya mantap, tidak akan bersikap agresif, tidak suka menyerang orang lain, karena dia meya

No comments: