Saturday, March 28, 2009

Wirausaha

PRAKTEK PENGHAMBAT WIRAUSAHA Jakarta, Kompas
Pemasyarakatan kewirausahaan sulit dilakukan karena masih terdapat segudang persoalan yang menyangkut moral ekonomi. Praktek kolusi, korupsi, kartel dan monopoli, merupakan salah satu kendala yang dapat menghambat terciptanya iklim kewirausahaan. Untuk itu pemerintah perlu menegakkan aturan hukum dengan jelas dan tegas. Demikian rangkuman pendapat yang dihimpun Kompas dari guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang, Prof Dr Hendra Esmara, guru besar IPB Prof Dr Sayogyo, pengamat ekonomi Dr Anwar Nasution dan Dr Ignas Kleden. Mereka dihubungi Kamis (13/7), berkaitan dengan pencanangan pemerintah tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan (GNMMK). Hendra Esmara mengatakan, iklim wirausaha sangat tergantung pada sistem sosial, politik, budaya, dan sistem ekonomi yang berlaku dalam masyarakat. Kalau sistemnya bisa memberi tempat dan peluang pada praktek kolusi, korupsi, dan monopoli, sulit bisa menumbuhkan jiwa kewirausahaan. Bagi Hendra, apa pun yang hendak dicanangkan pemerintah, yang penting harus bisa menurunkan tingkat kemiskinan masyarakat. Terjadinya situasi dan iklim (ekonomi) seperti sekarang, tidak terlepas dari berbagai faktor yang menyertainya. "Sekarang orang melakukan korupsi, karena mereka merasa ketakutan tidak kebagian sesuatu," katanya. Perlu aturan hukum Ignas Kleden mengemukakan, gerakan pemasyarakatan kewirausahaan harus dibarengi dengan aturan hukum yang jelas dan tegas. Sebab, semangat kewirausahaan sama seperti melahirkan seorang pemimpin, tidak dapat diminta atau didikte tanpa menciptakan suasana kondusif dalam menjalankan usaha. Dalam kondisi seperti sekarang, ujar Kleden, yang perlu dilakukan pemerintah dalam meningkatkan semangat kewirausahaan dengan memberikan tempat dan peluang yang sama pada semua orang, sebab mereka memiliki kedudukan yang sama di mata hukum. Sehingga masyarakat tidak hanya mengetahui kewajibannya tapi juga haknya sebagai warga. Jika kondisi ini tidak tercipta, tidak mungkin lahir manusia-manusia yang tangguh di bidang kewirausahaan. Makanya, lanjut Kleden, dalam kekaburan suasana yang sulit diramal ini, sebagian besar generasi muda kita lebih memilih jadi pegawai negeri bukan pengusaha. Artinya, keberanian untuk mengambil risiko sangat kecil, atau orang tidak mau mengambil risiko. Sebab, untuk menjadi wirausaha harus berhadapan dengan tantangan seperti mengalami kerugian karena kesalahan perhitungan. "Dalam berusaha orang tidak hanya memiliki kemampuan mengelola modal, tapi juga mencari kesempatan yang kemudian memberikan berbagai konfigurasi baru sehingga mendapat keuntungan," tutur Kleden. Distorsi pasar Di dalam dunia usaha sekarang, kata Kleden antara lain, faktor- faktor yang juga mengakibatkan ekonomi menjadi tidak sempurna adalah akibat terlalu banyaknya regulasi. Ini semua haruslah dikurangi untuk melahirkan kewirausahaan yang tangguh. Ignas Kleden mengatakan, harus diakui dunia bisnis tidak dapat terhindar dari unsur politik dan hubungan pribadi. Dan, itu menjadi hal penentu. Kalau itu terjadi akan lahir distorsi pasar. Jalan keluar yang baik untuk mengatasi distorsi pasar ini tidak lain membuat aturan yang jelas dan tegas. Sehingga, masyarakat tidak hanya mengetahui kewajibannya tapi juga haknya. Tegasnya, "Semua orang harus sama kedudukannya di depan hukum." Sementara itu ahli ekonomi pedesaan Sayogyo, mengungkapkan semangat wirausaha di kalangan masyarakat bawah lebih besar ketimbang masyarakat atas. Para petani di desa umumnya ulet dan tekun, mereka tidak gampang menyerah. Tapi dalam iklim ekonomi seperti sekarang, para petani di desa kalah dalam berkompetisi. Sayogyo mengutarakan, jiwa wirausaha di antara lapisan masyarakat, berbeda tergantung pada usaha dan kebudayaan masing-masing. Pengamat ekonomi Anwar Nasution mengutarakan, dalam sistem ekonomi yang masih diwarnai dengan praktek monopoli, oligopoli, dan kartel, sulit untuk bisa mewujudkan iklim wirausaha. "Meski begitu, bukan berarti masyarakat kita tidak bisa berwirausaha," tegas Anwar Nasution. (gun/joy/ion)

No comments: