Wednesday, April 1, 2009

Sejarah, Humanisasi atau Hominisasi?

Sejarah, Humanisasi atau Hominisasi?
Mutiara Andalasi


PROBLEM sejarah, kini bukan apakah dapat secara gradual berkuasa atas alam, tetapi apakah sejarah dapat menguasai dirinya. Seruan perdamaian dari para pejuang kemanusiaan atas konflik Amerika Serikat (AS) versus kelompok Osama bin Laden muncul saat sejarah berjalan bagai sebuah juggernaut yang melindas kejam kemanusiaan kita. Banyak orang bertanya serius tentang arah sejarah di tengah absurditas perang yang makin banyak menelan korban sejarah ini. Di tangan manusia-manusia awal milenium ketiga ini, sejarah akan mengarah pada merekahnya fajar humanisasi atau jatuh pada hominisasi? Apakah kekerasan yang terjadi hingga hari ini merupakan tanda-tanda dari historicide dalam peradaban kemanusiaan kita?Ignacio Ellacuria (1930-1989), seorang filsuf dan teolog Katolik dari Amerika Latin, dalam Filosofia de realidad historica (1990) menyatakan, kita perlu merumuskan kembali pertanyaan filosofis tentang manusia pada zaman modernitas akhir ini. Pertanyaannya kini, tidak sekadar siapakah manusia itu, tetapi siapakah manusia itu dalam realitas? Pertanyaan inilah yang akan mengantar kita pada hakikat terdalam manusia. Manusia tidak lagi dipahami dalam konstruksi filsafat Rene Descartes dengan cogito ergo sum-nya, yaitu sebagai rational animal. Menurut Ellacuria, ada korelasi antara manusia dengan sentient intelligence-nya dan realitas. Manusia secara intrinsik berakar pada dan terkait pada realitas. Manusia dipahami secara baru sebagai animal reality dengan sentient intelligence-nya.

Obyek filsafat, menurut Ellacuria, adalah realitas historis. Realitas historis di sini dipahami sebagai tingkat realitas yang mencakup realitas fisik (gerakan Bumi, perubahan iklim, keterbatasan fisik manusia), realitas organis (tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, budaya-budaya, kebutuhan manusia ketika berhadapan dengan organisme hidup), realitas binatang, dan realitas manusia (orang, keluarga, kelompok, masyarakat, sistem-sistem sosio-ekonomi-politik).

Manusia menduduki peran penting dan utama dalam sejarah. Sejarah tidak dipahami sebagai sebuah film yang diputar di teater dan kita hanya menjadi penonton pasif yang tidak dapat mempengaruhi alur ceritanya. Sebaliknya, manusia bertanggung jawab untuk menafsirkan dan mempengaruhi sejarah. Sebab, sejarah secara dinamis merupakan realitas paling dasar, esensial, terbuka untuk proses menjadi. Sejarah merupakan realitas yang terbuka di tangan manusia untuk mewujudkan realisasinya (historization). Hidup manusia merupakan panggilan untuk memahami realitas sejarah, mengarahkan sejarah pada "utopia" dalam terminologi masyarakat umum dan "Kerajaan Allah" dalam terminologi teologis.

Pada saat yang sama, realitas sejarah dapat diarahkan secara negatif pada kehancuran. Fenomena ideologisasi atas realitas merupakan bukti bagaimana realitas dapat disembunyikan dan didistorsikan. Berangkat dari konteks masyarakat pascakolonial El Salvador, Ellacuria menunjukkan ideologisasi itu pada kasus-kasus pembantaian orang-orang tak bersalah oleh militer, sebagai kejahatan atas kemanusiaan (crime against humanity). Tindakan itu mendapatkan yustifikasi atas nama keamanan nasional atau ketertiban masyarakat. Keamanan nasional atau ketertiban masyarakat menjadi salah satu manipulasi realitas yang akhirnya merasionalisasikan alasan dan memberi yustifikasi atas tindakan pembantaian brutal mereka.

Sejarah dan pembebasan

Ellacuria mendeskripsikan pembebasan sebagai realisasi atau historisasi realitas sebagai hasil dinamika intrinsik. Salah satu problem yang menegasi realisasi sejarah adalah kekerasan. Menurut Ellacuria, perlu dibedakan clara et distincta antara kekerasan struktural, kekerasan revolusioner, dan kekerasan represif. Menurut Ellacuria, sistem yang tidak adil yang menghalangi manusia untuk hidup secara manusiawi adalah sistem yang kejam. Sistem itu sendiri kejam karena merusak kehidupan.

Kekerasan asasi adalah ketidakadilan struktural yang secara kejam dipertahankan melalui struktur-struktur ekonomi, sosial, politik, dan kultural. Mayoritas penduduk dunia ada dalam situasi pelanggaran permanen atas hak-hak asasi mereka. Kekerasan revolusioner merupakan turunan, konsekeuensi dari kekerasan struktural. Mereka mengangkat senjata dan memulai gerakan revolusioner untuk mengatasi ketidakadilan struktural yang menindas dan kekerasan yang mendominasi mereka. Kekerasan represif merupakan respons atas kekerasan revolusioner dan segala bentuk protes damai, karena tidak ingin menutupi kebenaran dan realitas.

Absurditas perang

Secara jelas, sejarah membuktikan absurditas, fatalisme, perang. Absurditas perang itu jelas tampak dari pihak-pihak yang bertikai. Tak ada pihak yang menang dalam pertikaian itu meski setiap dari mereka masing-masing mengklaim kemenangan dalam konflik terkait. Padahal, perang itu berakhir dengan hasil seri permanen. Anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia menjadi korban utama dan pertama, karena mereka ada dalam zona-zona konflik. Bahkan mereka sering dijadikan tameng hidup oleh kelompok-kelompok yang bertikai.

Mari kita lihat bagaimana kultur kekerasan dengan ideologisasinya terekam secara telanjang dalam media. Kesadaran kita dibombardir dengan aesthetic violence: ledakan dahsyat, mobil berkejaran yang halusinatif, dan penghancuran mengerikan yang ditampilkan secara indah. Dalam bawah sadar, kita menerima, kekerasan itu mempesonakan! Sentuhan estetik atas kekerasan itu dapat kita temukan pula dalam penokohan bad guys dan good guys dalam film. Kekerasan dari good guys mendapat sentuhan estetik dan manusiawi sehingga sah dilakukan. Dunia dibagi secara simplistik dalam kategori hitam dan putih. Padahal, realitas manusia itu kompleks di mana kebaikan dan kejahatan bertarung dalam arena kebebasan masing-masing individu.

Ellacuria melakukan deideologisasi kekerasan dengan berpaling pada masyarakat korban, the crucified people guna melihat kembali arah sejarah. Berangkat dari dan untuk konteks Amerika Latin, Ellacuria berargumen, kaum miskin dan korban kekerasan menjadi lugar tesfanico dan lugar teslogico. Realitas merupakan tanggung jawab manusia untuk mewujudkannya. Karakter manusia secara esensial berorientasi praksis dan kehidupan manusia dipresentasikan secara etis sebagai keperluan memanggul beban realitas, guna diwujudkan secara gradual. Perjumpaan manusia dengan realitas historis itu berarti terlibat, mengingat, dan menghapus negativitasnya.

Persoalan arah sejarah adalah fenomena kehancuran sejarah, bahkan historicide. Kehancuran sejarah menunjuk pada ancaman atas kehidupan mikrokosmos dan makrokosmos. Kehancuran sejarah ditandai pelanggaran dan hilangnya kemanusiaan mereka. Berhadapan dengan pelanggaran atas hak-hak asasi manusia, manusia dipanggil untuk membongkar ketidakadilan dan eksploitasi, guna membangun dunia baru. Penemuan energi nuklir dan perkembangan senjata nuklir membuka fakta baru dalam sejarah, sejarah memberi kemungkinan bagi kehancurannya sendiri.

Usaha memerangi terorisme dengan invasi militer telah menciptakan kejahatan baru atas kemanusiaan pada level global. Dalam aras yang sama, serangan virus anthrax dapat ditempatkan di sini. Perang atas terorisme melalui kekerasan militer telah menciptakan kutub-kutub baru dalam politik internasional, yaitu aliansi negara-negara yang ingin memberantas terorisme dan mereka yang disatukan oleh solidaritas agama untuk melakukan jihad suci.

Ideologisasi kekerasan

Belajar dari konflik di Aljazair dan Kosovo, kita dapat menemukan minimal tiga paralelisme dalam konflik yang sedang terjadi antara AS-Osama bin Laden. Pertama, konflik-konflik itu tidak muncul ex nihilo. Konflik-konflik itu memiliki konteks dan konteks inilah yang sering disembunyikan dalam pemberitaan media saat media menjadi alat propaganda pihak-pihak yang bertikai. Realitas dideskripsikan secara dikotomik, hitam-putih. Awalnya, AS berkepentingan untuk menangkap pelaku pengeboman menara kembar WTC. Isu ini lalu bergeser menjadi invasi militer pada Afganistan. Persoalan makin kompleks saat pihak yang diserang, isunya digeser lagi menjadi invasi "Barat" terhadap Islam.

Kedua, kedua pihak yang sedang berkonflik mendistorsikan realitas. Dalam konflik di Aljazair, media menjadi alat propaganda untuk menyembunyikan realitas korban. Diskursus antarpihak yang berkonflik menjadi apologetik. Realitas kekerasan disembunyikan dengan politik satanization atas lawan konflik masing-masing sebagai penyebab kejahatan atas kemanusiaan. Kepentingan satu kelompok politik atau bangsa diuniversalisasikan sebagai kepentingan seluruh manusia, guna mendapat dukungan solidaritas internasional. Seruan pada komunitas internasional guna melakukan jihad suci dan melawan terorisme menjadi ideologis karena sama-sama mendistorsi realitas.

Ketiga, komunitas internasional tidak dapat bersikap impartial dalam konflik-konflik itu karena berarti membiarkan korban tak bersalah makin berjatuhan. Seruan untuk menghentikan teror dan invasi militer perlu untuk mengakhiri konflik. Perlu dipertanyakan otoritas yang memberi legitimasi kepada pihak-pihak yang bertikai guna mengatasnamakan diri mereka sebagai wakil komunitas global dan menggunakan kekuatan senjata, yang pada hakikatnya totaliter, untuk melawan terorisme. Yang penting dan mendesak untuk dilakukan, pertama-tama bukan bagaimana kasus-kasus kejahatan atas kemanusiaan yang dilakukan Pinochet atau Milosevic itu berakhir, tetapi lebih bagaimana komunitas internasional akhirnya menegakkan pengadilan tribunal internasional untuk mengadili kejahatan mereka.

Dialog perdamaian

Apakah masih relevan membicarakan dialog perdamaian di tengah konflik AS-Bin Laden yang makin memanas? Sebagai animal reality yang mampu melihat realitas sejati, kita makin melihat absurditas perang. Perang menegasi humanisasi dan kekerasan mendehumanisasikan manusia dalam taraf lebih rendah, yaitu hominisasi. Sejarah umat manusia yang ditutup tinta hitam kekerasan dan perang akan mengalami kematiannya karena mengingkari realisasinya. Sejarah yang diwarnai kekerasan dan perang tidak dapat merealisasikan kemanusiaannya karena tidak dapat menguasai dirinya.

Dialog perdamaian merupakan praksis manusia yang dengan sentient intelligence-nya mampu mengalahkan kecenderungan homo homini lupus dalam menyelesaikan konflik. Menyitir Xavier Gorostiaga dialog perdamaian merupakan perlawanan atas the geoculture of despair dan praksis dari animal reality yang menghargai perdamaian dan mengutuk "keniscayaan" perang. Dialog perdamaian merupakan cara menyelesaikan konflik, bukan perang. Dialog perdamaian menjadi momen berharga guna melakukan deideologisasi atas kepentingan-kepentingan kelompok yang selama ini dibungkus dalam jargon-jargon politik seperti "memerangi terorisme" dan "jihad suci." Dialog perdamaian sering menjadi sulit terlaksana karena pihak-pihak yang bertikai tidak ingin kedok ideologinya terbongkar secara publik. Dialog perdamaian memungkinkan pihak-pihak bertikai untuk melihat realitas sejati dan problem yang muncul atasnya, menerangi, dan mentransformasikannya. Akhirnya, sejarah umat manusia adalah sejarah humanisasi, bukan hominisasi.

* Mutiara Andalasi, alumnus STF Driyarkara, mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma.

No comments: