Wednesday, April 1, 2009

Arkeologi Pengetahuan

Membedah Diskursus dan Berkreasi dalam Ranah Pluralitas: Rereading Arkeologi Pengetahuan1
Zainul Ma'arif 2

Archaeology tries to define not the thoughts, representations, images, themes, preoccupations that are concealed or revealed in discourses; but those discourses themselves, those discourses as practices obeying certain rules.
(Michel Foucault)

Prolog

Adist Karizuwail dalam Ashru al-Binyawiyyah (1993)nya mengatakan bahwa salah satu faktor larisnya karya Michel Foucault adalah trend orang barat menggemari kajian tentang penyimpangan (deviance), seperti cerita tentang gila, sakit, kriminalitas dan sejenisnya.3 Terlepas dari benar atau tidaknya prediksi Karizuwail diatas, pemikir perempuan ini melanjutkan, bahwa tak semua dari orang barat mengetahui atau ingin tahu metode/teori apa yang sang pencerita gunakan. Maka, Foucault usai menulis L'Historie de la folie (1961; Madness and Civilization, 1965), Naissance de la clinuque (1963; The Birth of Clinic, 1965) lalu Les mots et les choses (1966; The Order of Thing, 1970), di tahun 1969 ia menulis L'Archéology du Savoir (The Archeology of Knowledge, 1972) guna memperdalam domain teoritis karya lampaunya serta mendekontruksi-rekontruksi pemahaman yang telah dicapai sebelumnya, lalu ia kembali mengkaji kejanggalan lain pada bukunya Moi, Pierre Rivière Ayant égorgè ma Mère ma Soeur et Mon Frère (1973; I, Pierre Rivière, having slaughtered my mother, my sister and my brother, 1975) dan Surveiller et Punir (1975; Disipline and Punish,1977).

Intensitas Foucault pada kasus-kasus aneh ini dapat kita sandingkan pada beberapa kemungkinan: pertama; ia suka nyeleneh, kedua; kasus-kasus penyimpangan termasuk obyek spesialisasinya, atau mungkin ketiga; ia senang mengungkap golongan/pemikiran yang terlupakan dan termajinalkan. Bila nyeleneh yang dimaksud hanya sekedar pretensi apalagi over acting, Foucault, kami pikir, tak masuk dalam kategori ini. Namun jika nyeleneh yang dimaksud adalah kritis, sesuai budaya dalam peradaban barat, Foucault memang muncul mengkritisi ide-ide sebelumnya. Selajutnya, bila kecenderungan ini ditinjau dari spesialisasi, secara garis besar spesialisasi Foucault adalah psikologi, filsafat, dan psikopatologi.4 Tahun 1948 ia mendapat licence filsafat, tahun 1950 ia meraih licence psikologi, dan diploma psikopatologinya diraih pada tahun 1952. Usai meraih tiga gelar tersebut penelitiannya ia lanjutkan pada beberapa klinik psikiatris sambil mengajar Psikopatologi di almamaternya, Ecole Normale Supériure. Dari tiga spesialisasinya yang kemudian mengantarkan nama besarnya mencuat terkenal, maka wajar jika bila segala hal yang berkenaan dengan akal dan manusia 'dilahap' karyanya. Adapun kemungkinan yang ketiga, sejalan dengan strukturalisme dan psikoanalisa yang suka mencari unconsciense (hal di luar kesadaran) di balik consciense (kesadaran), Foucault pun suka mencari hal-hal yang menyelip di timbunan yang nyata dan terlupakan, lalu menuangkannya pada karya-karyanya.

Dari sekian karya Foucault, ia sebarkan beberapa kata kunci dan teori, dengan kesiapan penuh untuk mengkritisi yang lalu, dikritisi yang sekarang dan mendatang, atau dimanfaatkan oleh generasi selanjutnya. Dilger contohnya, memilih tema 'diskontiunitas' dalam membaca 'arkeologi pengetahuan' Foucault.5 Houl dan Grace, menyatakan tema diskursus, kuasa/kekuatan dan subyek, sebagai ide primer Faucault, dan keduanya pun mengindentifikasi karya Foucault sebagai jawaban atas pertanyaaan dasar; siapakah kita, pada terma, pengetahuan kita tentang diri kita, jalan yang kita produk pada proses politik, dan relasi kita dengan diri kita dan dengan format etis yang kita gerakan untuk memerintah.6 Dan contoh lain Velibeyoglu mengelompokkan Foucault dalam komunitas pemikir Post-stukturalisme yang, katanya, banyak terpengaruh oleh Heidegger dan Nitzsche.7 Masih banyak lagi contoh penafsir Foucault lain, yang semuanya dapat disimpulkan bahwa konsep/kata-kunci untuk membahas Foucault cukup banyak yang dapat kita pilih. Baik bahasan tersebut kita konsentrasikan pada salah satu dari konsep/kata kuncinya atau pun kita stresingkan pada integralitas keseluruhan ide Foucault.

Pada esai ini, fokus yang ingin kami bidik adalah 'Arkeologi Pengetahuan', sebuah metode yang secara khusus ia tuangkan dalam sebuah buku, L'Archéology du savoir. Bidikan tersebut juga kita giring ke sub-sub bahasan pengetahuan dan diskursus serta implikasi metafisik/epistemologi pemikirannya. Tapi sebelum menjurus ke situ, posisi Foucault dalam skala ruang, waktu dan konstrelasi pemikiran (dengan memisahkan dan menyatukan ide Foucoult dengan trend wacana yang ada) akan terlebih dahulu penulis paparkan, agar pengetahuannya secara sosiologis (sosiologi pengetahuan) dapat kita identifikasi.

Posisi Foucault dalam lintasan ruang-waktu dan konstelasi pemikiran.

Foucault yang lahir di Poitiers tahun 1926 dan meninggal dunia pada tahun 1984, bisa kita katakan sebagai anak Abad XX. Suatu abad, yang dikenal di dunia pemikiran-ilmu-filsafat barat, sebagai abad yang mengcounter Abad XIX dengan ketat. Perseteruan kedua abad itu digambarkan Sauqi Jalâl sebagai berikut:

“Jika Abad XIX adalah abad akal dan keyakinan maka Abad XX adalah abad keraguan dan kemungkinan. Jika Abad XIX adalah abad percaya kepada teori-teori dan aliran-aliran, Abad XX sebaliknya berlaku sebagai abad pemberontakan wacana dan revolusi pluralitas. Jika Abad XIX adalah abad percaya pada ketenangan dan kemenangan manusia, Abad XX adalah abad krisis dan clash. Jika Abad XIX mengusung tema pencerahan akal, human centring, dan kemerdekaan ego, pemikiran, budaya dan hakekat, sebaliknya Abad XX adalah abad historisasi dan psikologisasi pemikiran, akal, budaya dan hakekat. Abad XX adalah abad struktul yang terfomulasi dari ego dan obyek yang bekelindan dalam ruang sejarah dan masyarakat. Abad krisis di semua pondasi kepercayaan, keyakinan, dan justifikasi kebebasan ego dan obyek.”8

Dan lebih spesifik lagi, Hanafi mengatakan abad XX, bagi kesadaran bangsa eropa, adalah abad bergejolaknya dua formasi kesadaran eropa keempat dan kelima; yaitu formasi kesadaran eropa akhir permulaan (nihâyah al-bidâyah) dan formasi kesadaran eropa permulaan akhir (bidâyah an-nihâyah). Kedua fase kesadaran eropa tersebut, secara historis, telah melahirkan Post-Idealisme (Pragmatisme, Logika Positivisme dan Neo-Empirisme), Post-Empirisme (Neo-Kantian dan Anti-psychiatric), Idealisme-Empirisme (Idealisme-Obyektivisme, Filsafat Hidup, dan Jalan ketiga), Fenomenologi, Eksistensialisme, Personalisme, Neo-Thomisme, Neo-Agustinisme, Madzhab Frankfurt, Filsafat Ilmu dan Dekonstruksi.9 Dua formasi kesadaran yang identik dengan kritik.

Bagaimanapun independensi status seorang filsuf, pada hakekatnya ia anak suatu peradaban dan zaman, yang memiliki suatu corak yang dapat afilisasikan dengan suatu kecenderungan/aliran. Selaku anak peradaban barat, ada baiknya kita tinjau karakteristik peradaban yang sekarang sedang berada diatas angin itu. Hanafi yang gigih mempelajari barat dengan proyek oksidentalismenya mengidentifikasi peradaban barat sebagai peradaban thardiyyah, maksudnya, pengetahuan dan ilmu yang ada di peradaban tersebut berusaha keluar dari pusat peradaban bahkan mengelimenasikannya.10 Semua hasil pemikiran-eksperimen manusia yang 'berani keluar' harus siap untuk dikritisi, untuk tidak mengatakan disingkirkan. Kesiapan mental-intelektual-emosional sungguh diuji, examinernya kritik. Kritik, bagi siapapun yang 'terlanjur terjun' dalam dunia intelektual-ilmu pengetahuan menjadi senjata ampuh untuk berseteru dengan yang lama dan melahirkan yang baru, hingga Hegel pun menggambarkannya dengan 'dialektika'.

Foucault sengaja ataupun tidak tampak mengikuti ritme diatas. Pengaruh peradaban thardiyah barat yang direpresentasikan dengan cantik oleh Abad XX itu pun, ikut andil membentuk ‘sumsum otak’ Foucault dan menghantarkannya ke kecenderungan/aliran yang punya kesamaan dengannya. Kecenderungan/aliran yang sering diisukan sebagai tempat jumbuhnya Foucault konon adalah Strukturalisme, Post-Strukturalisme, dan Post-Modernisme yang muncul memberontak tatanan sebelumnya.

Beriringan dengan strukturalisme; ia singkirkan legalitas pencerahan (enlightment) dan humanisme, berjajar dengan Post-strukturalisme; ia ‘depak’ Hegel, Deskartes dan Karl Marx, plus ia tolak struktural linguistik Saussure—yang menjadi basis karya kaum Strukturalis—untuk menjadi basis karyanya, dan senada dengan Post-modernisme; ia marjinalkan moderisme. Velibeyoglu menyatakannya sebagai berikut :

“Foucault bersama Levi's straus lebih suka mengkampanyekan, “ingin 'melarutkan' (dissolve) hegemoni manusia”, saat modernisme/ enlightment (mulai dari Cogito Urgo Sum Descartes) dan humanisme menyatakan manusia sebagai pusat alam (human centering). Ia lebih memilih proposisi "individu adalah efek dari kuasa" dengan ascending analysis, saat Hegel mengatakan "individu adalah instrument idea" dengan descending analysis. Dan kendati ada kesamaannya dengan Karl Marx dalam metodologi historis (memulai analisa sejarah dengan observasi fenomena yang solid dan institusi), mereka berbeda, khususnya dalam masalah ilmu-pengetahuan, politik dan 'pembebasan' sejarah. Di satu sisi, proyek ilmiah Marx berusaha menggilas kepercayaan (faith) dengan kolaborasi ilmu dan utilitas-reabilitas empiris, di sisi lain, proyek genealogi pengetahuan Foucault berusaha meresistensi efek ilmu pada pengetahuan (anti-scientific). Dalam bidang politik juga berbeda, perhatian politik Marx menjurus pada politik macroscopic (menuju perjuangan kelas), sedangkan stresing politik Foucault pada micropolitical (reaktivitasi pengetahuan local),. Dan, bila Marx mencoba membebaskan sejarah dari idealisme hegelian menuju matrealisme-empirisme, secara kontras Foucault berusaha membebaskan sejarah dari empirisme.“11

Kritik Foucaul diatas bisa kita katakan sebagai relasi Foucault dengan wacana yang beredar di sekelilingnya. Refleksi Foucault tersebut juga dapat dikatakan sebagai representasi dari zamannya secara khusus dan peradabannya secara global. Itu semua adalah hubungan Foucault dengan dunia luar yang bersifat deskontruktif bahkan destruktif. Adapun kreasinya, meski sama-sama dekontruktif dan destruktif tapi diiringi dengan rekontruksi, ia tuangkan dalam bidang yang menjadi spesialisasinya; Psikologi, Psikopatology dan Filsafat. Dalam bidang Psikologi dan Psikopatologi ia bahas keadaan-keadaan upnormal, sebagai upaya menampakkan sisi yang dimarjinalkan, secara praktis-empiris. Adapun di bidang Filsafat yang banyak bersifat abstrak itu, ia bahas masalah epistemologi terutama masalah pengetahuan dan diskursus.

Penulis (Autor), Diskursus (wacana), Kuasa (Power) dan Pengetahuan (Knowledge)

Walaupun teks menampakkan figur sang penulis/pengarang (autor), Foucault tetap menganggap penulis berada di luar teks dan ia telah 'mati', hingga teks dapat menampakkan diri dan ‘bermain’ dalam bahasa.12 Alasan 'mati'nya penulis di hadapan teks, menurutnya karena, pertama; pernyataan yang dilontarkan penulis itu hanyalah derma dari yang telah ada sebelumnya, kedua; fungsi penulis itu tidak universal atau tidak konstans pada semua diskursus, ketiga; fungsi penulis itu tak terformat spontanitas, hingga tak bisa dengan mudah mempertalikan suatu diskursus dengan seorang individu, karena pada hakekatnya diskursuslah (yang merupakan suatu kompleksitas yang beroperasi) yang mengkontruksi entitas rasio atau penulis.13 Jadi, fungsi penulis, dalam sosio-historis, usai 'kematian'nya, bagi Foucoult hanyalah; untuk mengkarakterisasi eksistensi, sirkulasi dan operasi suatu diskursus dalam suatu masyarakat, menampakkan konfergensi komplek jaringan praktek diskursus, dan merefleksikan perubahan praktek diskursus. Dan oleh karena the death of autor tersebut, karakteristik diskursus yang mendukung penggunaannya dan mendeterminasi perbedaannya dari diskursus lain itu, perlu dipertimbangkan, atau dengan kata lain intensitas Foucault berpindah ke arah diskursus.

Pengertian diskursus yang paling simple, dalam ide Foucault, adalah otoritas untuk mendeskripsikan sesuatu, yang dipropagandakan oleh suatu institusi dan berfungsi untuk memisah-misah dunia dengan jalan tertentu.14 Sebagai contoh simple, kata jam yang kita sepakati untuk mendefinisikan alat penunjuk waktu adalah suatu terma yang yang ditentukan oleh suatu diskursus. Kesepakatan kita tersebut bisa dikatakan sang diskursus yang memaksa jam untuk disebut sebagai jam. Obyek yang kita sebut sebagai jam itu sama sekali tak pernah menyatakan dirinya sebagai jam, diskursus yang kita buat bersama itulah yang telah memperkosa hakekat obyek yang kita sebut dengan jam. Deskripsi yang kita terakan pada suatu obyek tersebut, disamping melakukan keberbihakan (bias), telah mengatur sang obyek dan merefleksikan relasi kuasa. Jadi dapat disimpulkan bahwa diskursus adalah suatu kuasa yang mengkungkung obyek dan pengetahuan kita akan obyek Dan obyek yang kita ketahui, bersama diskursus, bisa juga kita simpulkan; tak lagi obyektif. Yang jadi pertanyaan, adakah obyektifitas? Dapatkah pengetahuan kita atas suatu obyek lepas dari suatu bias, diskursus dan kuasa? Bila obyektifitas menjadi semacam utopia, apa ‘laku’ Foucault usai mengurai ‘perselingkuhan’ pengetahuan dengan kekuasaan?

Sesederhana dan seawam apapun pertanyaan diatas, ia merupakan problem yang harus dijawab oleh Foucault, karena hal relasi pengetahuan obyek dengan kuasa dan diskursus terlanjur ia analisa. Dalam Foucault Reader (1984), Foucault berusaha keluar dari jerat problem diatas dan mengatakan tiga model obyektifikasi subyek: pertama; pemisahan praktis (dividing praktices), kedua; klasifikasi ilmiah, dan ketiga; subyektifikasi. Model pertama operasionalnya berupa; proses membedakan subyek secara individual dari dalam dan dari yang luar, dengan kombinasi media ilmu (science/pseudo science) dan praktek peniadaan (the practice of exclusion), model kedua prosesnya berupa; investivigasi subyek yang meletakkan dirinya pada status ilmu, dengan mengurai strukturnya dalam sejarah, karena menurut Foucault, subyek tersebut secara logis berproses mencari dirinya dalam sejarah, dan model ketiga tugasnya; berkonsentrasi pada proses transformasi manusia menjadi subyek melalui operasi badan, jiwa, pikiran dan tingkah laku mereka yang membawa kepada proses pemahahan diri, yang menurut Foucault proses ini membuat sang penelaah tersangkut pada otoritas figur eksternal.15 Singkat kata, obyektifikasi Foucault bergerak melalui distingsi dan klasifikasi. Pertanyaan selanjutnya, apakah obyektifikasinya telah meredakan haus kita akan obyektifitas dan dapat melepaskan pengetahuan dari kerangkeng kuasa dan diskursus?

Tampaknya Foucault tak berhasrat untuk melepaskan pengetahuan dari kuasa, karena kekuatan masih ia akui eksistensinya dalam memproduk pengetahuan.16 Foucault hanya mencoba membuka hubungan intim pengetahuan dengan kuasa/kekusaan seperti Gramsci (1976) dalam hegemoni dan inkorporasi, Goffman (1962) dalam institusi total dan resistensi menuju kekutan, dan Weber (1970) dalam birokrasi dan administrasi.17 Dan obyektifikasinya, menurut penulis, tak lebih dari analisa pengetahuan yang disusul dengan analisa diskursus, yang tak dapat mencapai ke tataran obyektif dan tak menolak dominasi kuasa, karena obyektifikasi pada akhirnya hanyalah kesepakatan subyektif baru yang memperkosa obyek. Dan perangkat optik yang ia gunakan untuk mengurai pengetahuan beserta diskursus itu ia beri nama Arkeologi Pengetahuan.

Arkeologi Pengetahuan

Meski tak suka keterbatasan, Foucault secara langsung maupun tidak langsung telah mendefinisikan pengetahuan yang akan diarkeologikannya. Definisinya atas pengetahuan antara lain sebagai berikut. Pengetahuan adalah, A; kumpulan komponen yang terformat secara sistematis dari praktek diskursus, yang merupakan komponen penting formasi suatu ilmu, B; sesuatu yang dapat didialogkan dalam praktek diskursus, yang terformat dari formasi domain bermacam obyek, yang dapat mencapai ataupun tidak, ke batas ilmiyah, C; ruang yang memungkinkan bagi ego untuk berbicara darinya tentang sesuatu yang sedang diperhatikannya di dalam diskursus tertentu, D; domain koordinasi statement, di dalamnya konsep tampak, terdefinisi, tetap dan berubah.18

Dari empat definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa; 1; pengetahuan itu ruang yang terformat dari praktek diskursus, kumpulan obyek, konsep dan statement, 2; pengetahuan itu potensial untuk menjadi ilmu atau pengetahuan itu lebih global dari ilmu, 3; pengetahuan berada di dalam diskursus, dan 4; antara pengetahuan dengan praktek diskursus berkorelasi sangat erat, dimana formasi pengetahuan adalah dari praktek diskursus dan praktek diskursus terformat dari pengetahuan.

Dalam membahas pengetahuan, rival Foucault yang paling nyata adalah, sejarah pengetahuan. Maka tak heran sebelum mendeskripsikan teori-teorinya, Foucault terlebih dahulu mengkritisi teori sejarawan. Sejarawan yang sering mengusung konsep kontinuitas, Foucault tandingi dengan konsep diskontinuitas. Menurut Dilger, tujuan tandingan konsep tersebut adalah, untuk mengekspos dan memerangi distorsi, serta menyeimbangi konsep kontinyuitas yang selalu mengontrol, mendominasi dan mendistorsi sejarah, jadi bukan untuk membuang segala kontinuitas sejarah atau meniadakan pemakaian konsep tersebut.19 Selain membuat konsep tandingan, dalam konteks pengetahuan, Arkeologi Pengetahuan juga enggan untuk sama dengan Sejarah Pengetahuan. Ia bergerak mendesentralisasi praktek diskursus-pengetahuan-ilmu dan berkonsentrasi secara seimbang dengan menganalisa pengetahuan, saat Sejarah Pengetahuan bertahan dengan sentralisasi suatu kesadaran-pengetahuan-ilmu dan berkonsentrasi secara seimbang pada unsur pengetahuan dalam hubungan dzat yang mengetahui dan obyek.20

Sesuai metode obyektifikasinya, setelah membedakan Arkeologi Pengetahuan dari Sejarah Pengetahuan, Foucault beranjak mengurai karakteristik metodologinya tersebut. Karakter spesial dari Arkeologi Pengetahuan, menurutnya adalah: pertama; membatasi diskursus, dari sisi keberadaannya sebagai suatu praktek yang dikontrol metode tertentu, dengan cara; penetrasi ke dalam kesamaran dan ketidak-jelasan diskursus, hingga mencapai dasar terdalam esensinya, kedua; membatasi spesialisasi diskursus, dengan cara; menampakkan bagaimana suatu metode mendominasi diskursus, mengobservasi fenomena dan gambaran (image) eksternal diskursus, dengan tujuan; melingkupinya secara komprehensif dan menganalisa diferensiasi antara formulasi dan ekspresi diskursus, ketiga; membatasi tipologi dan metodologi praktis diskursus yang mendominasi dan mengkontrolnya, keempat; Arkeologi Pengetahuan adalah tulisan kedua, dengan merubah tulisan pertama secara sistematis tanpa menyalahi bentuk eksternalnya dan kelima; Arkeologi Pengetahuan adalah representasi sistematis diskursus, dan menjadikan diskursus sebagai obyek.21

Paparan diatas mengindikasikan adanya jeratan metodologi atas diskursus yang harus diurai dan diidentifikasi model belenggunya. Mengingat diskursus adalah obyek Arkeologi, maka tampilannya tetap diperhatikan dan dibandingkan dengan diskursus lain, ditambah usaha sendiri untuk melihat langsung fenomena dan masuk ke esensinya, yang kemudian menghantarkan kepada kreasi baru dengan jalan lain. Namun, jika benar diskursus adalah obyek Arkeologi Pengetahuan, rasanya deskripsi Foucault diatas masih belum menukik ke arah diskursus itu sendiri. Alasannya; karakteristik yang diungkapkan diatas, hanya menyapu permukaan luar diskursus beserta metodologi yang berada di luar esensinya, lalu pergi menjauh membuat teks lain.

Kiranya Foucault mengantisipasi dan menjawab ketidak-puasan tersebut dengan mencanangkan analisa diskursus dengan proses sebagai berikut: Pertama; skeptis terhadap kesatuan susunan baku, seperti buku dan manuskrip (ouvre) yang hakekat kesatuannya tak terjadi langsung dan tetap, dengan mempelajari formasi dalamnya dan berhenti sejenak pada kontradiksi yang tak tampak, hingga elemen yang membentuk kesatuan itu terlihat, kedua; meninjau ciri kejadian diskursus, dengan mempertanyakan sebab-sebab pilihan diskursus atas sebuah statemen, ketiga; merekontruksi sistem pemikiran dengan bersandar pada totalitas diskursus, sembari membongkar aktifitas unconsciense di belakang statement, mencari ulang (rediscover) yang tak dikatakan (silent murmuring), dan mencari makna hakiki di belakang makna majazi, keempat; meninjau ciri hubungan antar statement dan akses yang terbentuk dari hubungan tersebut, juga meninjau ciri statement di dalam diskursus.22

Kendati Foucault mempertahankan konsep diskontinuitas pemikiran dan itu juga sesuai dengan ciri khas peradaban thardiyah Barat, tak ada salahnya jika kita ‘melenceng’ sedikit, meninjau kontinyuitas analisa diskursus Foucault di atas dengan philosophical system pendahulunya; antara lain dengan Deskartes dan Nietzsche, karena ilmu pada hakekatnya bergerak akumulatif. Konsep skeptis Foucault, rasanya tak begitu asing jika kita membaca kembali Discouse on the Methode Descartes (1637) yang kelewat terkenal itu. Bapak modernisme barat ini, acapkali melihat suatu obyek, berusaha untuk membiasakan diri dengan metode skeptis (metode pertama) yaitu, tak menerima suatu sebelum diuji dan dikenal dengan jelas (recognized) oleh akal. Skeptis temporal itu selanjutnya diiringi dengan metode analisa; (metode kedua) dengan memugar obyek menjadi partikel-partikel kecil, lalu disintesakan kembali dengan metode sintesis (metode yang ketiga). Kemudian, holistisitas- komprehensifitas obyek dan analisasanya, akhirnya ia tinjau ulang, dengan metode enumerasi (metode keempat).23 Walaupun ada semacam keserupaan antar metode kedua filsuf perancis tersebut, namun Foucault lebih jauh lagi. Metodenya tak hanya sebatas empat metode Deskartes diatas, lebih melebar lagi, Foucault juga berusaha membuka latar belakang obyek (semacam unconscience) dan mencari serta mengungkap apa yang tak disebutkan/yang tak dipikirkan (seperti, silent murmuring).

Selain ada semacam akumulasi dari metode Deskartes, Arkeologi Pengetahuan juga punya keterkaitan dengan metode lain, di antaranya dengan Genealogi Nietzsche. Dalam makalah Nietzsche, Genealogy and History (1977), Foucault sempat mengakui bahwa ia dengan genealogi berusaha mengembalikan tiga hal yang telah disebutkan Nietzsche pada 1874, berupa kegunaan sejarah bagi genealogi atau kelemahan sejarah yang akan ditutupi genealogi. Yaitu, A; sejarah menggunakan periodeisasi yang bersifat parsial, B; sejarah berlaku sebagai pemisahan identitas secara sistematis, dan C; sejarah berupa perjuangan subyek pengetahuan.24 Ketiga-tiganya menampakkan kontinuitas sejarah, padalah konsep sejarah Foucault adalah diskontinuitas. Kendati genalogi mengkritisi sejarah, tak berarti genealogi adalah oposan sejarah. Karena meski genealogi menolak metahistoris yang menyebarkan pentingnya idealisme tanpa mendefinisakan secara teleologis itu itu, genealogi tetap membutuhkan sejarah, untuk menghalau tirai penutup keaslian (originality) obyek sejarah dengan mengetahui secara jelas segala even dalam sejarah. Bahkan Foucault sempat mengatakan: “Genealogy is history in the form of concerted carnival.”25

Sebagai sebuah metodologi, kerja genealogi, menurut Foucault adalah: A; berusaha mengembalikan pengetahuan yang diperlukan, B; merekam kejadian partikular di luar yang punya kesamaan dengan data, C; mencari partikularitas lain di tempat yang tak diduga, D; sensitif terhadap hal yang terjadi berulang (recurrence) E; mendefinisi setiap ilustrasi/contoh yang tak disebutkan, F; mengolah data secara mendetail, dan menyelami kedalamannya sambil menghilangkan susunan yang membingungkan (labyrinth) G; mencermati dan menunggu kemunculan hal-hal aksidental yang berkongsi dengan setiap permulaan, yang terkadang tampak jelas sebagai permukaan dasar, dan H; mengidentifikasi hal aksidental yang masih ada dan bermanfaat, untuk membuktikan, bahwa kebenaran tak selamanya berada pada jalan yang kita ketahui saja atau yang berada pada kita, tapi sering berada pada hal aksidental di luar.26

Genealogi, dengan tata kerjanya itu, dapat kita simpulkan sebagai suatu proses pembongkaran sejarah/pengetahuan/data dan mengungkap yang tak terungkap, guna mencari orisinalitas dan otentitas, dan membuka jalan kemungkinan-kemungkinan lain. Meski ada kemiripan antara genealogi dengan arkeologi, Foucault tetap mengkritisi genealogi. Kelemahan genealogi, menurut Foucault, terletak pada kebutuhannya akan kesabaran ekstra, karena ia berhubungan dengan metode ketat dan pengetahuan mendetail yang bergantung pada akumulasi sumber material secara massif.27

Epilog

Semua paparan diatas, bisa kita kerucutkan, telah meninjau ide-metode foucault secara sosiologis-historis dan secara analisis-hermeneutis. Di akhir kata ini, penulis berusaha mengkritisi ide Foucault juga mengambil manfaat dari ajarannya. Bila metodologi arkeologi telah kita kritisi dengan menganalisa dan mengkomperasikannya dengan metode pendahulu seperti Deskartes dan Nietzsche, idenya, terutama the death of autor, akan penulis kritisi dengan psikoanalisa dan komperasi dengan ide lain.

Secara sosiologi-historis, ide the death of autor, mungkin dapat kita katakan sebagai representasi dari ‘dissentralisai manusia’ yang diusung post modernisme dan strukturalisme, dalam mengkritisi human centering modernisme dan humanisme. Tapi ide tersebut, bila ditinjau dengan optik psikoanalisa, tampaknya Foucault memendam sesuatu yang di luar kesadaran atau mungkin secara sadar, tak mau ditampakkannya. Pertanyaannya yang muncul untuk membuka unconsciense atau mungkin conscience itu antara lain, mengapa Foucault cenderung memilih diskursus/teks/pengetahuan dan menyingkirkan penulis?

Jawabannya kemungkinan dapat kita kembalikan pada kehidupan dan pribadi Foucault yang ‘konon’ cenderung upnormal. K. Bartens sempat menyebutkan bahwa meninggalnya Foucault di umur 57 itu diisukan karena mengidap penyakit Aids.28 Dan terlepas dari benar atau tidaknya isu di atas, Edwar Said, dalam My Counter With Sartre, juga menyebutkan, bahwa Departemen Filsafat Universitas Tunis, tempat Foucault mengajar, pernah mengatakan bahwa hengkangnya Foucault dari universitas tersebut secara khusus, dan dari negara Tunisia secara umum, bukanlah hanya karena Foucault takut pada antisemitik-antiisrael yang sempat menjalar di dunia arab pada tahun 1967an , seperti yang dikatakan Foucault. Tapi alasan lain dari keluarnya dia dari tunisia, menurut departemen itu adalah karena Foucault diisukan melakukan tindak homo seksual dengan salah satu pelajar.29 Jadi, dapat kita simpulkan, di samping Foucault sering membahas keadaan upnormal, ada gejala upnormal juga pada dirinya. Gejala upnormal yang menghimpit Foucault itu kemungkinan mendorongnya mengungkapkan ide the death of autor, yang secara implisit mengatakan, “lihatlah apa yang dikatakan/ditulis tanpa memilah-milah siapa yang mengatakannya” (undzur mâ qîla wa lâ tandzur man qâla).

Ide ini, secara garis besar, menurut penulis mempunyai kelemahan. Kelemahannya antara lain ditinjau dari segi teks. Sebuah teks, itu sering kali tak bisa kita pahami secara komprehensif tanpa mengetahui latar belakang sang penulis, dan sang penulis tak dapat diketahui secara gamblang pula, tanpa dilihat latar belakang sosio-historisnya. Contohnya teks-teks yang mengusung tema terorisme dan Islam yang sedang membahana akhir-akhir ini. Teks-teks tersebut tak dapat dipahami oleh orang lain atau generasi setelah kita, kecuali mereka paham bahwa sosio-historis kejadian 11 September 2001 yang mengarah kepada identifikasi Islam dengan terorisme, melandasi teks dengan tema tersebut. Dan diskursus yang diusung teks itupun tak bisa kita pahami dengan baik pula, kecuali kita juga melihat latar belakang sang penulis. Bila tema tersebut dibawa ke arah diskursus; ‘Islam tak identik dengan terorisme’, bisa jadi sang penulis adalah seorang muslim yang meresistansi agamanya, atau ia seorang non muslim yang paham bahwa seluruh agama pada dasarnya mengajak kepada kebaikan, dan kepentingan sosial-politik-ekomomi atau kepentingan lain sejenisnyalah yang seringkali menunggangi agama dan kemudian mendistorsi agama ke arah kekerasan. Sebaliknya, bila tema tersebut dibawa ke arah diskursus; “Islam adalah teroris”, bisa jadi sang penulis tak paham makna agama atau bisa jadi ia adalah corong amerika atau mungkin ada alasan lain yang melatari sang penulis. Oleh karenanya, diskursus memang harus diteliti lebih dalam, teks apapun asal dia bermanfaat dan baik dapat kita konsumsi tanpa membeda-bedakan siapa yang yang menulis/mengatakannya. Tapi, di samping itu, tak ada salahnya, bila kita pun meninjau diskursus maupun teks dari segi sang penulis dan dari segi sosio historis.

Adapun Istifadah kita dari metode Arkeologi pengetahuan, dalam usaha rereading ini, minimal ada tiga sikap yang bisa kita pelajari dari Arkeologi Pengetahuan. Pertama; skeptis, kedua; mandiri, ketiga; pluralis, dan keempat; kreatif. Empat sikap tersebut berhubungan secara hierarkis dan kesemuanya saling terkait dalam meninjau suatu obyek. Dalam suatu deskripsi obyek misalnya; pertama kali deskripsi itu kita ragukan kebenaran dan keutuhannya, lalu secara mandiri kita berusaha untuk membahas struktur pembentuk deskripsi tersebut, berikut metodologi deskriptifnya, sambil kembali kepada fenomena yang dideskripsikan. Tinjauan kita tersebut, untuk menyesuaikan teori Foucault, harus mengandung sebuah prinsip, adanya jalan lain yang tak satu. Jalan lain tersebut kemudian kita paparkan, di samping kita pun dapat kesempatan untuk menjadi ‘sang jalan yang lain’ dari deskripsi yang telah ada, yang eksis secara kreatif.

Empat sikap di atas bila kita tarik ke permukaan praktis-empiris, kiranya juga memiliki kekuatan yang mengagumkan. Karena ‘keragu-raguan’ pada hakekatnya titik tolak berpikir mendalam. Ia dapat mengantar kita ke arah pengetahuan, dan pengetahuan pun dapat berjalan menuju ilmu. Adapun mandiri, secara radikal dapat menghempas taklid dan menabur benih budaya kritis. Sedangkan prinsip adanya pluralitas kebenaran, dapat menyorong kita kepada, sikap hormat terhadap perbedaan, pluralis, inklusif, toleran, bahkan menerima yang lain (otherness). Terakhir, sikap kreatif, dapat berfungsi, melicinkan jalan dinamis, menggelar hal-hal yang baru dan menggulirkan kemungkinan-kemungkinan yang tak terhingga.

Abbasea, 6-Juli-2002
Catatan Kaki

1. Dipresentasikan di PKTIIS (Pusat Kodifikasi Ilmu Islam dan Sosial) pada tanggal 6-Juli-2002 di Nasr City, Cairo, Egypt.
2. Mahasiswa Akidah-Filsafat, Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir.
3. Adits Karizuwail, Ashru al-Binyawiyyah,(Kuwait: Dâr as-Su’âd ash-Shabâh, 1993), h. 293.
4. K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Jilid II; Prancis, (Jakarta; Gramedia, 2001), h.297.
5. C. Bradley Dilger, The Discontinuities of Foucault: Reading The Archaeology of Knowledge, (University of Florida, 1999).
6. A. Mc Houl & W. Grace, A Foucault Primer: Discourse, Power and the Subject. (Victoria: Melbourne University Press, 1995).
7. Koray Velibeyoglu, Post-structuralism and Foucault, (Izmir Institute of Technology, 1999).
8. Sauqiy Jalâl, Muqadimah; Binyawiyah al-Tsaurah al-‘Ilmiyyah, Thomas.S.Kunt, (Kuwait; ‘Âlam al-Ma’rifah, 1992) h.7.
9. Hassan Hanafî, Muqaddimah fî Ilmi al-Istighrâb, (Beirut: Al-Muassasah al-Jâmi’ah, 2000) h. 313-434
10. Ibid., h. 435
11. Post-Strukturalisme and Foucault,Op.cit., h.1-4.
12. John R Durant, Michel Foucault on 'The Author Function' dalam Language, Counter-Memory, Practice. Ed. Donald F. Bouchard. Ithaca, (New York: Cornell University Press, 1997) diambil dari http://umn.edu dan http://www.georgetown.edu
13. Idem.
14. Foucault: Key Concepts, diambil dari: http://www.sou.edu
15. Michel Foucault, The Foucault Reader, Ed/Trans. Paul Rabinow, (New York: antheon Books, 1984), h. 8 dan 11
16. Michel Foucault, Power/Knowledge; Selected Interviews and Other Writings 1972-1977, Interviewers: editorial collective of Quell Corps, June 1975.
17. John Pratt, Features ‘Power and Resistance in the Social: The Critical Theory of Michel Foucault, (New Zealand Cultural Studies Workshop, Massey University, October 1986) h.1.
18 Michel Foucault, L’Archéology du Savoir, edisi bahasa Arab yang diterjemahkan oleh Sâlim Yafût, dengan judul, Hafriyât al-Ma’rifah, (Maroko; Al-Markaz ats-Tsâqafiy al-Arabiy, 1987) h.168.
19. The Discontinuities of Foucault: Reading The Archaeology of Knowledge, Op.cit., h.2-3.
20. Hafriyât al-Ma’rifah, Op.cit., h.168-169.
21. Ibid., h.128-129.
22. Ibid., h. 22-31.
23. Lih., keempat metode itu di Rene Decartes, ‘An al-Manhaj al-ilmiy, Discourse on the methode versi arab diterjemahkan oleh Dr. Utsman Amin (Mesir; Haiah Al-Mishriyah al Ammah li al-kitâb, 2000) h.97-99. Dan Rene Descartes, Discourse on the Method, [1637] ed. James Fieser [Internet Release, 1996 http://www.utm.edu/research/
24. Michel Foucault, Nietzsche, Genealogy and History, dalam Language, Counter-Memory, Practice: Selected Essays and Interview, (Ed) D.F.Bouchard, (Ithaca; Cornell University Press,1977) h. 160-162 dan 164
25. Ibid., h.161.
26. Ibid., passim h. 139,140,144, dan 146
27. Ibid., h.140.
28. Filsafat Barat Kontemporer Jilid II; Prancis , Op.cit., h.301.
29. Edward Said, My Encounter with Sartre, LRB Vol 22, No 11, 1 June 2000

Kembali ke Hal. Depan

No comments: