Wednesday, April 1, 2009

kacamata Psikologi Dalam

Kisah KS Sebagai Cermin Diri
Membaca KS dengan kacamata Psikologi Dalam

Apa itu psikologi dalam dan bagaimana ia diterapkan dalam menafsirkan KS? Bagaimana ia menjadi sarana pengenalan diri? Kalian pasti pernah dengar apa yang disebut (Aufklärung), yang mulai dicanangkan sejak abad ke-17 dan ke-18. Itulah satu era, di mana rasio menjadi hakim atas segala-galanya (rasionalismus) dan hanya yang bisa diraba dan dibuktikanlah yang bisa dianggap nyata (empirismus). Immanuel Kant, bapak dari aliran baru ini merumuskan Aufklärung sebagai: der Ausgang des Menschen aus seiner selbst verschuldeten Unmündigkeit. Unmündigkeit ist das Unvermögen, sich seines Verstandes ohne Leitung eines anderen zu bedienen. Definisi ini merupakan patokan, yang haram dilanggar oleh setiap orang yang mati-matian menganut rationalismus dan empirismus, dua cabang utama dari gerakan Aufklärung.

Saya tidak bermaksud menguraikan lebih lanjut apa dan bagaimana itu Aufklärung. Saya hanya ingin menunjukkan, bahwa sejak masa Aufklärung terjadi perang salib, terbuka atau terselubung, antara ilmu dan iman, agama dan tehnik. Pribadi manusia terancam terbelah dua, entah beriman atau berilmu. Bagi banyak orang kedua bidang itu tidak bisa diperdamaikan. Kaum beragama mencap kaum ilmuan pasti alam sebagai manusia minus iman, dan kaum ilmuan pasti alam mencap kaum beragama sebagai manusia yang masih terperangkap dalam dongeng tentang hal-hal ilahi. Pertentangan itu masih bisa kita saksikan dalam diri banyak orang dewasa ini. Apakah memang benar iman dan ilmu itu sungguh bertentangan, itu soal lain. Saya sendiri tidak percaya akan hal itu! Pokoknya itulah yang terjadi: Ilmu dipertentangkan dengan iman, tehnik dipermusuhkan dengan agama.

Teologi dan ilmu tafsiran KS juga tidak terkecuali dari perang ini. Sejak Aufklärung dan sampai dewasa ini banyak orang Kristen menderita di bawah “jajahan” ilmu tafsir KS berhaluan rasional dan liberal. Aliran ini menelaah KS dari segi hukum-hukum rasio dan logika; hanya menerima apa yang bisa diterangkan secara itu dan menolak segala yang bertentangan dengannya. Karena itu ada yang berusaha menerangkan “bagaimana Yesus berjalan di atas air” secara rasional dengan menduga, mungkin Yesus meloncat dari batu ke batu. KS diselidiki dan ditafsirkan dengan cara mengurai-urai kalimat dan kata-kata. Ilmu tafsir KS merosot menjadi ilmu filologi, obyek hobi para pencinta teks-teks kuno. Secara keseluruhan tapi, tendens ini memperdangkal iman kita, yang sebenarnya mencakup manusia secara keseluruhan. Dalam era rasionalismus, manusia cenderung berjalan terbalik, kepala di bawah, kaki di atas. Sabda KS, yang adalah warta hidup, yang merupakan sarana komunikasi Allah manusia, merosot menjadi huruf-huruf mati, bagaikan tulisan kuno yang disimpan di museum. Dengan demikian, bukan hanya mereka memperlakukan KS tidak sebagaimana adanya, melainkan juga menutup segala kemungkinan bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup, yang bersabda kepada kita juga dewasa ini melalui KS dan Roh-Nya.

Sementara umat manusia tanpa terlalu sadar berkecimpung dalam sengsara sedemikian muncul dan berkembanglah menjadi ilmu tersendiri apa yang dewasa ini kita kenal ilmu psikologi. Psikologi menyelami dunia jiwa kita, menyelidiki kamar-kamar rahasianya, dan menemukan cara bicaranya yang tidak selalu logis dan rasional. Manusia bukan hanya berpikir, melainkan juga merasa, mencinta dan mencipta, bermimpi dan berkomunikasi. Itu adalah medan-medan yang tidak selalu sesuai dengan hukum-hukum logis dan rasional. Hubungan pribadi antar manusia, cita-cita dan harapannya, keputusan-keputusan dan tingkah lakunya tidak dapat diterangkan secara logika. Apalagi dalam dunia komunikasi yang memakai sarana gambar-gambar, perumpamaan, isyarat dan tanda-tanda. Apa yang dimaksudkan tidak dapat disimpulkan hanya dari kata-kata yang diucapkan, melainkan dalam makna yang terselubung di balik gambar, kisah, perumpamaan, gerak-gerik dan isyarat. Secara umum psikologi berusaha mengenal manusia, bukan dengan melalui logikanya, melainkan melalui penampakan-penampakan psikisnya. Salah satu contohnya adalah yang telah dipraktekkan Sdr Hora tadi pagi. Spesialisasi lainnya adalah psikologi dalam. Ia terutama berjasa membantu kita untuk menempuh jalan ke arah pengenalan diri. Saya tidak mau menerangkan psikologi dalam, tetapi mau menunjukan bagaimana ia menjadi alat bantu bagi kita untuk membaca KS.

Membaca KS dengan bantuan psikologi dalam

Eugen Drewermann adalah tokoh yang saat ini gigih, menerapkan psikologi dalam untuk menfasirkan KS. Andaian dasar dari tafsiran KS menurut psikologi dalam adalah, bahwa para pengarang KS melukiskan apa yang terjadi dan yang mereka alami dalam bentuk gambar dan lukisan. Mereka tidaklah terutama mau merekam apa yang terjadi, melainkan memberi kesaksian dari apa yang mereka alami dalam bentuk kisah dan gambar-gambar. Tujuannya adalah agar kita bisa ambil bagian dalam kebenaran yang ingin mereka bagikan; agar kita menemukan kembali diri kita sendiri dalam kisah dan gambar-gambar yang mereka lukiskan. Tak ada interese akan fakta sekedar fakta. Dari fakta tok kita tidak dapat hidup. Kita hanya dapat hidup dari kisah-kisah, terutama itu kisah-kisah dari sejarah keselamatan, yang di dalamnya kita dapat melihat diri kita sendiri; suatu kisah dan gambar yang menyapa gambar dan simbol-simbol yang telah tertanam dalam jiwa kita. Psikolog C.G. Jung, bapak dari psikologi dalam, menyebut gambar-gambar dalam jiwa kita tsb arketip. Gambar-gambar tsb. tertanam dalam ketidaksadaran setiap manusia pada segala zaman. Sebenarnya arketip bukanlah gambar, melainkan hanya sketsa dan pola, yang kemudian dapat diisi dan dipenuhi oleh gambar-gambar konkrit. Jung mengatakan, bahwa umat manusia memiliki ketidaksadaran kolektif. Ia merupakan rekaman pengalaman seluruh umat manusia. Di dalamnya telah mengendap ingatan akan perkembangan manusia sepanjang sejarah, bahkan juga ketika nafsu kebinatangan masih kuat dalam diri manusia. Setiap orang dari kita ambil bagian dalam kesadaran kolektif tsb. Kendati mengendap di ketidaksadaran gambar-gambar tsb mempengaruhi cara berpikir, cara merasa dan cara bertingkah laku manusia. Bahkan ia kadang muncul ke permukaan dalam mimpi dan cerita-cerita. Para penyusun KS dan pengarang mitos-mitos memakai gambar-gambar ini secara tidak sengaja untuk menyampaikan kepada kita kisah-kisah yang bernilai kebijaksanaan dan kebenaran.

Bercerita merupakan bentuk pertama psikologi di dalam masyarakat kuno. Jalan kepada kepenuhan diri dituturkan dalam bentuk kisah, yang di dalamnya setiap orang bisa mengidentifikasikan diri. Bercerita sama dengan menyampaikan kebijaksanaan, pengalaman, bahkan ia berdaya menyembuhkan. Dalam cerita kita tidak dipaksa mengakui satu teori atau percaya kepada kalimat-kalimat tertentu. Dengan mendengar cerita, kita dibawa masuk, ikut terlibat dalam dunia yang digambarkan dalam cerita. Di dalamnya kita melihat diri kita secara baru, kita ambil bagian dalam kebenaran yang diceritakan di situ. Cerita membantu kita menemukan siapa kita dan apa yang barangkali mengganggu dalam jiwa kita. Ia bagaikan cermin. Ia bisa diulang setiap saat dan kepada setiap orang, tetapi setiap kali dan setiap orang menemukan diri di dalamnya. Barangkali itukah sebabnya Yesus suka mewartakan Kerajaan Allah dalam bentuk cerita?

Drewermann memperbandingkan gambar-gambar, yang dipakai oleh para pengarang kisah dan dongeng dalam menceritakan kejadian dan pengalaman mereka, dengan gambar-gambar, yang muncul dalam mimpi. Menurut dia, di antara keduanya terdapat banyak motif yang mirip. Karena itu ia mengusulkan agar kita menafsirkan kisah-kisah tsb seperti layakanya menafsirkan mimpi.

Dua aturan main diusulkan oleh Drewermann. Pertama, seyogyanya kita membandingkan motif yang terdapat dalam satu cerita dengan motif-motif dalam kisah-kisah dan tradisi bangsa-bangsa. Motif-motif dalam KS misalnya, banyak di antaranya yang juga terdapat dalam kisah dan cerita bangsa serta agama-agama lain. Contohnya adalah motif permusuhan antar saudara (Kain dan Abel, Jakob dan Esau), suatu tema yang sering muncul juga dalam dongeng-dongeng dan cerita-cerita lima benua.
Kedua, seyogyanya kita mengartikan benda-benda, tokoh dan pribadi-pribadi serta situasi-situasi yang muncul dalam kisah baik secara obyektif maupun secara subyektif. Secara obyektif satu mimpi bisa mengisyaratkan sesuatu tentang orang lain atau suatu situasi, yang melengkapi apa yang secara sadar kita ketahui. Dapat terjadi bahwa dalam mimpi ketidaksadaran kita mencoba menyatakan pendapatnya tentang diri kita. Secara subyektif tokoh-tokoh dalam mimpi atau cerita bukanlah sekedar tokoh-tokoh dengan hubungan kekeluargaan, melainkan menunjukkan aspek-aspek dari jiwa kita. Tokoh bapa misalnya menunjukkan dimensi kelaki-lakian jiwa kita; Ibu atau isteri menyorot aspek kewanitaan dalam jiwa, sifat kelemah-lembutan, persaudaraan, keprihatinan, dll. Rumah atau puri dalam dongeng bisa merupakan gambar dari rumah jiwa kita sendiri. Apa yang terjadi dan terdapat dalam rumah itu dapat merupakan indikasi dari apa yang bergelora dan berdiam dalam batin sendiri. Binatang-binatang biasanya memiliki makna simbolis juga. Mereka sering merupakan penunjuk jalan, atau mengungkapkan sisi kebijaksanaan manusia. Burung yang membawa makanan kepada nabi Elia di sungai Kerit merupakan utusan dunia ilahi. Gua harimau dalam kisah nabi Daniel dapat merupakan gambaran dari situasi kita sendiri, yang berada dalam belenggu hasrat, keinginan, agresi, dan stres. Malaikat, raksasa dan orang kate biasanya melambangkan kekuatan yang terkandung dalam jiwa kita.

Prosedur yang sama bisa diterapkan dalam menghadapi satu kisah dalam KS. Jadi pertama kita berusaha menafsirkannya pada tingkat obyektif. Kita mencoba menemukan diri kita dalam pribadi dan tokoh dalam cerita. Dapat terjadi, bahwa kita dapat mengidentifikasikan diri dengan lebih dari satu tokoh. Akhirnya kita menafsirkan teks tsb pada tingkat subyektif. Kita membaca teks secara keseluruhan sebagai cermin dari jiwa kita sendiri.

Mengapa demikian? Menurut Drewermann setiap cerita yang berciri arketip selalu berintensi melukiskan proses kedewasaan manusia; menuturkan tahap-tahap yang dijalani manusia untuk mencapai kepenuhan dirinya. Cerita selalu merupakan penunjuk jalan, yang menuntun manusia untuk menemukan dirinya sendiri. Proses itu biasanya mengikuti skema berikut: Sang raja, yakni kesadaranku, mengutus putranya (kekuatan-kekuatanku) yang harus melintasi bahaya (pengalaman pahit kehidupan), untuk mendapatkan seorang gadis perawan (anima, jiwa) dan membawanya ke rumah untuk dinikahi (persatuan segala pihak-pihak yang bertentangan, integrasi diri). Skema seperti itu muncul baik dalam dongeng, maupun dalam banyak kisah dalam KS. Kisah Tobit merupakan salah satu contohnya. Tobit mengutus putranya Tobia ke tempat yang jauh untuk mengambil harta berharga. Dalam perjalanan ia ditemani malaikat Rafael yang tidak dikenalnya sampai pada akhir perjalanan. Malaikat mempertemukan dia dengan Sara, yang berada dalam kunkungan ketakutan menghadapi setiap orang yang menjadi suaminya, dst.

Dalam menerapkan psikologi ini dalam menafsirkan kisah KS Drewermann mengajukan 4 kriteria untuk mengadakan tafsiran yang tepat:

1. Keseluruhan. Dalam membaca satu kisah kita harus bertanya: apa sumbangan kisah ini pada proses penemuan diri manusia? Motif-motif dalam kisah haruslah selaras dengan keseluruhan. Kalau tidak tafsirannya miring.
2. Pengantar kisah. Pembukaan kisah harus diperhatikan dengan baik, sebab biasanya pada pengantarlah dikemukakan tema kisah serta konflik di dalamnya. Penting juga adalah perasaan yang dibangkitkan oleh kalimat-kalimat pertama.
3. Pusat. Penting untuk melihat siapa tokoh utama kisah, yang seputar dia seluruh cerita dituturkan.
4. Penerapan. Bahasa gambar harus diterjemahkan dalam bahasa pengalaman biasa yang sesuai dengan realitas yang dilukiskan dalam kisah. Jadi harus bisa diperjelas dengan contoh-contoh dari hidup nyata.

***

Kerja dalam Kelompok
Contoh Penerapan Metode ini

Yoh 5,1-9:

Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi dan Yesus berangkat ke Yerusalem.

Di Yerusalem dekat pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam,
yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda;
ada lima serambinya

dan diserambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit:
orang-orang buta, orang-orang timpang dan lumpuh,
yang menantikan goncangan air kolam itu.
— Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya —

Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.

Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ
dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu,
berkatalah Ia kepadanya:
Maukah engkau sembuh?
Jawab orang sakit itu kepada-Nya:
Tuhan, tidak ada orang mau menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang,
dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.

Kata Yesus kepadanya:
Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah

Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu
lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan.

***

Panduan Refleksi

1. Penyakit apakah yang dilukiskan di sini? Bagaimana ia digambarkan? Sikap mana yang terungkap dalam penyakit itu? Apa kiranya sumber psikis penyakit itu? Biarkanlah asosiasimu jalan. Asosiasi mana timbul dari lukisan penyakit itu?
2. Sejauh mana kamu menemukan dirimu sendiri dalam diri si sakit? Orang lain manakah yang kamu kenal, yang gambaran penyakit yang dilukiskan di sini kena untuknya? Apa yang tersentuh dalam batinmu berdasarkan gambaran itu, pengalaman mana disapa oleh kisah?
3. Bagaimana diceritakan proses terjadinya penyembuhan? Langkah-langkah mana yang harus dilakukan si sakit, dan yang ditempuh oleh Yesus? Cobalah menyelami langkah-langkah ini sebagai proses batiniah.
4. Bagaimana mungkin terjadi penyembuhan padamu? Kamu berani percaya, bahwa Yesus bisa menyembuhkanmu? Apa artinya tahap dan langkah-langkah penyembuhan dalam kisah Injil ini dalam proses kesembuhanmu sendiri? Di mana dan dalam mana terjadi penyembuhan bagimu?
5. Cobalah mengidentifikasikan diri dengan si sakit dalam kisah Injil ini. Apa kiranya ingin kamu katakan kepadanya? Cobalah berbicara dengannya! Bicaralah juga dengan Jesus tentang dirimu dan penyakit-penyakitmu.

***

Pengantar refleksi kelompok

Metode penafsiran psikologi dalam paling cocok diterapkan untuk menafsirkan kisah-kisah penyembuhan dalam Injil. Dewasa ini para ahli KS sepakat, bahwa Yesus pernah mengadakan penyembuhan. Pertanyaannya adalah, apakah kita percaya, bahwa Ia mampu menyembuhkan kita? Kisah-kisah penyembuhan dalam Injil barulah memiliki makna penyembuhan, kalau kita menemukan kembali diri kita dalam diri orang-orang yang disembuhkan Yesus; kalau kita —seperti orang sakit itu— menghadap Yesus dan membawa kepada-Nya segala luka-luka kita. Tidak jarang penyakit yang disembuhkan Yesus adalah penyakit psikosomatis, artinya, penyakit yang diakibatkan oleh keadaan psikis, yang menjelma dalam bentuk penyakit badaniah.
Kadang-kadang kita merasakan juga gejala-gejala penyakit yang dilukiskan di sana dalam diri kita. Walaupun kita secara badaniah sehat, kita dapat menghayati penyakit yang sama dalam diri kita. Cukup kita mendengar ungkapan-ungkapan orang, yang mengungkapkan keadaan kita dalam gambaran-gambaran: kadang-kadang kita merasa seperti lumpuh, blockiert. Kita tak mampu keluar dari diri kita sendiri. Kita canggung, kelumpuhan memperlemah kita.
Atau kita seperti buta, seakan tak mampu menangkap masalah seputar kita. Atau kita takut untuk membuka mata terhadap kebenaran, penderitaan, kesakitan. Atau kita tuli, kita tak mau mendengar, bukan hanya hiruk pikuk sekitar, melainkan juga kritik dan teguran. Atau kita merasakan situasi seperti dialami orang lepra dalam KS: diasingkan oleh sahabat, merasa tidak diterima. Atau seperti kerasukan, ke sana ke mari terombang-ambing antara berbagai keinginan dan kebutuhan, kita arahkan agresi kita terhadap diri sendiri, bagaikan orang yang kerasukan setan di Gerasa, yang memukuli dirinya dengan batu (Mrk 5,1-20), dst.

Kisah-kisah penyembuhan melukiskan keadaan yang juga adalah keadaan kita, yang tidak nampak dalam permukaan. Di dalam kisah-kisah itu kita bertemu orang-orang yang juga sakit seperti kita. Tetapi dalam pertemuan dengan Yesus mereka disembuhkan. Kisah-kisah itu bisa menjadi sarana bagi kita untuk melihat keadaan diri kita sendiri, penyakit dan luka-luka kita. Hanyalah dengan demikian kita bisa menghadap Yesus dan membiarkan Dia menyembuhkan kita.
Karena itu kita perlu membaca kisah penyembuhan dengan penuh perhatian: kita perhatikan langkah atau tahap-tahap penyembuhan yang dilukiskan di situ. Langkah-langkah itu tidak jarang menggambarkan proses penyembuhan kita sendiri, yang tentu saja berlangsungnya lebih lama.

***

Pleno hasil diskusi kelompok
Komentar terhadap teks Yoh 5,1-9


* Kolam Betesda terletak di Gerbang Domba di Yerusalem. Betesda artinya rumah belaskasihan.

* Air dalam kolam berguncang sewaktu-waktu. Dari mata air Siloam kita tahu, bahwa setiap hari air itu bergerak dua kali pada musim panas dan sekali pada musim gugur (Yoh 9,7 par).

* Di antara para sakit: yang buta, lumpuh, timpang.

* Ada juga seorang, yang telah 38 tahun sakit. Penyakitnya tidak disebutkan? Mengapa? Entahlah. Para ahli KS menduga bahwa ia lumpuh. Tetapi karena Penginjil membiarkan penyakitnya tidak disebut (kemungkinannya terbuka), barangkali bisa mempergampang bagi kita untuk mengidentifikasikan diri dengan si sakit. Egal apa yang dalam diri kita sakit dan luka, tuli, bisu, perasaan diasingkan, lumpuh, atau apapun:
Barangkali kita menutup mata terhadap kenyataan yang benar, dan menghindari rumah belas kasih, rumah kehidupan. Ketakutan, kebutuhan dan keinginan bisa melumpuhkan kita. Kita merasa tertutup, tidak mampu keluar dari diri dan menghadap orang lain. Takut melakukan kesalahan membuat kita takut memulai pertemuan.

* Sejak 38 tahun orang itu sakit. Mengapa 38? Para Bapa Gereja melihat dalam angka itu makna simbolis, yang menunjuk kepada Kitab Ul 2,14, yang menulis: Lamanya kita berjalan ... 38 tahun, sampai seluruh angkatan prajurit habis binasa ... 38 tahun orang itu sakit, 38 tahun orang Israel mengembara di padang gurun. Seluruh tenaga habis. Seluruh prajurit habis musna. Semangat hidup orang sakit itu telah pudar. Ia tak dapat lagi bertempur. Ia telah aufgegeben. Tapi barangkali itu merupakan syarat, untuk bisa sampai ke rumah belas kasihan, sehingga ia bisa mengalami belas kasih Allah.

* Yesus menyembuhkan si sakit dalam 5 langkah:


Pertama, melihat. Jesus melihat si sakit berbaring. Melihat dan dilihat adalah langkah pertama untuk disembuhkan.

Kedua, tahu. Yesus segera mengetahui, bahwa orang itu sakit. Tahu di sini berarti: ia kenal perjuangan si sakit, bahwa ia telah berhenti berjuang, bahwa ia lumpuh. Tahu berarti mengerti. Ia mengerti sebab yang lebih dalam daripada hanya sekedar gejala-gejala lahiriah.

Ketiga, bertanya. Maukah engkau sembuh? tanya Yesus. Kalau seorang ingin sembuh, ia harus sendiri mau. Yesus menanyakan di sini keinginan si sakit. Ia mengembalikan kita kepada diri kita sendiri. Menjadi sembuh adalah keputusan sendiri. Tak mungkin kita menunggu-nunggu sampai orang lain mengadakannya untuk kita. Kita harus memutuskan sendiri untuk menjadi sembuh, menjadi hidup. Tanpa semangat hidup, penyembuhan tak mungkin. Banyak orang tidak mau disembuhkan, karena situasi semacam itu membawa kepuasan dan keuntungan: dengan alsan sakit mereka tidak perlu turut berjuang, mereka justru dirawat, dikasihani. Mereka kembali ke suasana kanak-kanak, dengan segala pemeliharaan dan perhatian ibu. Secara batiniah mereka tidak berbuat apa-apa. Tetapi Yesus menyapa ego sang orang sakit. Ia menyentuhnya dan membangunkannya. Maukah engkau sembuh? Ia membiarkan si sakit kembali ke egonya sendiri.

Keempat, mendengar. Yesus mendengarkan si sakit. Ia membiarkannya berbicara, mengisahkan ceritanya, mengeluarkan isi hatinya. Kata-kata si sakit pertama-tama kedengaran bagaikan memaafkan diri. Tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu... Karena ia tidak memiliki siapa-siapa, ia tidak menjadi sembuh. Itu bisa merupakan isyarat, bahwa ia tidak ingin sembuh, bahwa ia tidak cukup berusaha untuk itu. Tetapi ucapan itu bisa juga merupakan lukisan sebenarnya dari penyakitnya. Ia sakit, karena ia tidak memiliki siapa-siapa. Teks asli bahasa Yunani dari Injil berbunyi: anthropon ouk echo. Saya tidak memiliki seorang manusia. Banyak orang sakit atau tinggal sakit karena tidak memiliki seseorang. Mereka merasa ditinggalkan, tak berharga, bukan siapa-siapa. Manusia hanya dapat sehat dan hidup bila merasa dikasihi. Tanpa hubungan, hidup menjadi layu. Ketiadaan hubungan membuat orang itu sakit. Ia tidak memiliki seseorang yang menyokongnya masuk ke dalam air. Air bisa berarti air kehidupan. Jadi tak ada orang yang membawa dia kepada kehidupan. Tanpa seseorang saya merasa diasingkan dari hidup. Air bisa juga berarti gambar dari bawah sadar kita. Orang itu tidak mempunyai orang yang bisa menghantarnya ke sumber, yang memancar dalam dirinya (lih. Yoh 4,14). Dari diri kita sendiri sulitlah kita sampai ke sumber terdalam dalam diri kita. Kita perlu orang lain, yang membantu kita menyelam ke dalam jati diri kita, ke sumber, di mana airnya memancar, bergerak, bergoncang.

Barangkali ucapan si sakit sendiri bisa memperjelas hal itu. Dengarlah: sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku. Ia merasa dirugikan. Benachteiligt, kata orang Jerman. Orang lain lebih cepat, lebih dekat ke sumber. Ia tidak memiliki kans lagi. Ia tidak mau berjuang lagi, karena orang lain lebih beruntung dari dia. Ia terletak di situ tanpa harapan, benachteiligt, lumpuh, tanpa semangat hidup.

Yesus mendengar semua, tanpa memotong cerita si sakit. Ia membiarkannya mengisahkan ceritanya sampai habis. (Kelima) Tetapi kemudian Yesus tidak mau meladeni argumen-argumennya. Ia tahu. Ia tak mau berdiskusi tentang hal alasan-alasan itu. Ia langsung memerintahkan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah. Tak ada gunanya berenang dalam rasa kasihan. Si sakit harus berdiri, bangkit menantang keputusasaan, melawan ketakutan, menghadang semua yang menghalanginya untuk hidup. Kita cenderung berkata kepada diri, saya baru bangun, kalau saya merasa yakin bisa bangun. Tetapi Yesus langsung menyuruh si sakit mengangkat tilamnya. Tilam, tempat tidur, adalah simbol bagi penyakit, kelumpuhan, ketidakyakinan diri. Kita harus mengangkat pembaringan kita, memegangnya, dan menyeretnya. Kita harus berjalan, kendati harus menyeret penyakit kita. Itu lebih baik daripada kita berbaring, dilumpuhkan olehnya. Menjadi sehat bukan berarti membuang segala kelumpuhan dan kecanggungan. Hidup sebagai orang sehat berarti tahu bersikap menghadapi penyakit dan luka-luka kita. Kita harus menyeret luka-luka kita, dan buka penyakit kita mengikat kaki kita.

* Orang itu langsung mengerti maksud Yesus. Penginjil menulis, sembuhlan orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Sabda Yesus telah membuatnya sehat kembali. Pertemuan dengan Yesus telah membangkitkan kembali semangatnya untuk hidup, untuk bangkit. Yesus tidak mengangkat dia ke dalam kolam, tetapi menghantar dia menyelam ke kolam, ke sumber yang memancar dalam dirinya sendiri. Sumber yang mampu untuk membuat dia bisa hidup. Suatu kali Yesus berkata kepada wanita Samaria dalam Yoh 4,14, Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus selama-lamanya. Air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. ***

No comments: